Bukan Daftar Tapi Dijemput, Sekolah Rakyat di Medan Beri Fasilitas Serba Gratis bagi Anak Kurang Mampu
- Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Medan tidak membuka pendaftaran konvensional, melainkan menggunakan sistem penjangkauan langsung atau jemput bola ke lapangan.
- Seluruh biaya hidup anak yang bersekolah di SRT ditanggung penuh oleh negara, mencakup asrama, makan tiga kali sehari, delapan stel seragam, hingga perlengkapan kebersihan diri.
- SRT menerapkan metode multi entry multi exit yang memfasilitasi anak putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus mengulang dari awal.
Skema unik diterapkan oleh Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Kota Medan demi menyelamatkan masa depan anak-anak dari keluarga prasejahtera. Berbeda dengan instansi pendidikan pada umumnya, sekolah ini sama sekali tidak membuka loket pendaftaran siswa baru secara konvensional melainkan menggunakan metode penjangkauan langsung ke rumah-rumah warga. Langkah jemput bola ini sengaja diambil agar bantuan pendidikan yang dikucurkan oleh negara bisa tepat sasaran dan menyentuh anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses bangku sekolah karena kendala biaya.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 30 Medan, Syahripal Putra, mengungkapkan bahwa proses penyaringan peserta didik melibatkan pengawasan yang sangat ketat di lapangan. Petugas dari Kementerian Sosial, khususnya para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), dikerahkan secara masif untuk melakukan verifikasi faktual atau ground checking. Proses ini menjadi instrumen utama pemastian bahwa kandidat siswa yang terpilih benar-benar datang dari kelompok masyarakat yang membutuhkan intervensi ekonomi.
"Di Sekolah Rakyat itu kita tidak menerima pendaftaran. Kita menjangkau anak-anak yang tidak terjangkau. Pendamping PKH melakukan ground checking agar benar-benar melihat kondisi anak di lapangan dan memastikan mereka layak dibantu," kata Syahripal menjabarkan mekanisme operasional sekolah tersebut.
Meski menawarkan program yang sangat solutif, Syahripal mengakui tantangan terbesar justru muncul pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Banyak orang tua yang merasa belum siap secara mental untuk melepas anak mereka yang masih berusia sangat dini untuk tinggal menetap di dalam asrama sekolah. Di sisi lain, antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka pada jenjang SMP dan SMA justru melonjak sangat tinggi karena didorong oleh kurikulum fleksibel berbentuk multi entry multi exit yang memungkinkan anak putus sekolah untuk masuk kapan saja tanpa mengulang dari kelas awal.
Fasilitas yang disediakan oleh SRT pun terbilang sangat mewah untuk ukuran sekolah gratis karena negara menanggung penuh seluruh kebutuhan hidup dasar para siswa. Syahripal merinci bahwa setiap anak akan mendapatkan jaminan makan tiga kali sehari, makanan ringan, delapan stel seragam sekolah, hingga paket perlengkapan kebersihan diri sehari-hari. "Anak-anak mendapatkan tiga kali makan, dua kali makanan ringan, delapan stel seragam, hingga perlengkapan kebersihan diri. Kami berharap orang tua percaya kepada kami agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan memperoleh pendidikan yang layak," tuturnya.
Salah satu orang tua murid SRT 2 Kota Medan, Romasta Marbun, sempat membagikan kisah harunya saat pertama kali harus merelakan putranya yang baru berusia tujuh tahun untuk tinggal mandiri di asrama. Meskipun sempat diwarnai isak tangis pada malam pertama perpisahan, Romasta mengaku kini jauh lebih tenang setelah melihat anaknya mulai ceria dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan baru selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Keberadaan SRT ini diakui Romasta telah menjadi angin segar sekaligus tumpuan harapan besar bagi keluarga dengan kondisi finansial menengah ke bawah.