Akses Aceh-Sumut Putus Akibat Longsor, Hutama Karya Kejar Tayang Sebelum 17 Agustus
- PT Hutama Karya (Persero) mempercepat perbaikan infrastruktur jalan yang rusak akibat bencana longsor di sejumlah titik strategis Aceh dan Sumatera Utara.
- Progres pengerjaan tanggap darurat di beberapa ruas utama, termasuk koridor Tarutung-Sibolga, ditargetkan fungsional menjelang peringatan HUT ke-81 RI.
- Langkah percepatan ini mencakup pembangunan dinding penahan tanah, bored pile, hingga jembatan rangka baja guna memperlancar kembali arus logistik.
PT Hutama Karya (Persero) terus bergerak cepat dalam mengebut penanganan tanggap darurat di sejumlah ruas jalan yang lumpuh akibat bencana longsor di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Langkah taktis ini diambil demi memulihkan jaringan konektivitas masyarakat yang terganggu. Terlebih, mobilitas warga diprediksi akan melonjak tajam menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada Agustus mendatang.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang infrastruktur ini berkomitmen penuh untuk memulihkan akses transportasi yang menjadi urat nadi perekonomian daerah. Perusahaan memastikan bahwa perbaikan tidak hanya sekadar mengembalikan fungsi jalan, melainkan juga meningkatkan aspek keselamatan. Infrastruktur yang sedang dibangun didesain agar lebih andal dan memiliki ketahanan tinggi terhadap potensi bencana susulan di masa depan.
"Proyek-proyek tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan akses transportasi masyarakat, tetapi juga meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar distribusi logistik, serta memperkuat ketahanan infrastruktur terhadap risiko bencana," ujar Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, dalam keterangannya.
Di Bumi Serambi Mekkah, Hutama Karya berfokus pada tiga wilayah krusial, yaitu Ruas PPK 3.3 Aceh, Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues-Blangkejeren, serta Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara-Kota Kutacane. Kerusakan di wilayah ini tergolong masif, sehingga membutuhkan penanganan kompleks. Tim di lapangan menerapkan berbagai metode engineering seperti pembangunan dinding penahan tanah, pemasangan box culvert, buis beton, bored pile, jembatan rangka baja, hingga proteksi lereng gunung.
Data per Juni 2026 menunjukkan progres fisik pada Ruas PPK 3.3 Aceh telah menyentuh angka 30,46 persen, yang mencakup perbaikan di 26 titik longsoran dan dua jembatan terputus. Sementara itu, untuk Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues-Blangkejeren, perkembangan pengerjaan berada di angka 22,41 persen untuk 23 titik rawan. Manajemen optimistis beberapa titik prioritas seperti kawasan Palok dan Ramung sudah bisa dilalui kendaraan secara normal pada pertengahan Agustus 2026.
Akselerasi signifikan terlihat pada Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara-Kota Kutacane yang mencatatkan progres hingga 43 persen pada minggu kedua Juli 2026. Di koridor ini, penyelesaian Jembatan Lawe Mengkudu menjadi prioritas utama agar dapat difungsikan bulan depan. Tidak hanya di Aceh, proyek serupa juga digeber di koridor Tarutung-Sibolga, Sumatera Utara, yang kini progresnya mencapai 24,26 persen dengan fokus pengecoran dinding penahan tanah demi menjaga kelancaran logistik nasional.