Perang Memanas, AS Resmi Berlakukan Blokade Laut dan Gempur Iran
- Amerika Serikat secara resmi memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Selasa sore waktu setempat.
- Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik jika tidak segera bernegosiasi.
- Militer AS meluncurkan gelombang serangan udara keempat secara berturut-turut yang menyasar fasilitas rudal dan pertahanan pesisir Iran.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah Amerika Serikat (AS) secara resmi memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah drastis ini diambil setelah kesepakatan gencatan senjata informal alias memorandum kesepahaman Islamabad yang disepakati bulan lalu dinyatakan runtuh sepenuhnya. Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa armada tempur mereka telah bersiap di sepanjang Selat Hormuz untuk menyetop seluruh akses keluar-masuk kapal dari dan menuju wilayah Iran.
Presiden AS Donald Trump tidak main-main dengan eskalasi militer ini dan langsung melayangkan ancaman yang jauh lebih destruktif kepada Teheran. Dalam wawancara televisi terbarunya, Trump memperingatkan bahwa Washington akan mulai menggempur fasilitas infrastruktur sipil vital jika Iran terus keras kepala. 'Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras besok malam, malam berikutnya, dan minggu depan situasi akan menjadi sangat buruk bagi mereka karena sasaran berikutnya adalah pembangkit listrik dan jembatan,' tegas Trump saat memberikan ultimatum agar Iran segera kembali ke meja perundingan.
Di saat yang sama, militer AS menyelesaikan gelombang serangan udara hari keempat berturut-turut dengan menargetkan puluhan situs militer di pesisir Iran dan sekitar Selat Hormuz. Menggunakan kombinasi jet tempur, drone, dan kapal perang, CENTCOM mengklaim telah menghancurkan sistem radar, baterai rudal, serta pos pertahanan udara Iran guna mengamankan jalur pelayaran internasional. Serangan udara ini dilaporkan menghantam kota pelabuhan strategis Bandar Abbas hingga Pulau Hengam di Teluk Persia.
Respons balik dari kubu sekutu Iran pun mulai bermunculan dan memicu kepanikan di negara-negara tetangga seperti Kuwait dan Bahrain. Militer Kuwait bahkan melaporkan telah mengaktifkan sistem pertahanan udara Patriot miliknya untuk mencegat serangan drone jenis Shahed yang dikirim oleh Garda Revolusi Iran ke wilayah industri mereka. Selain itu, pihak berwenang Iran mengklaim bahwa pasukannya berhasil menghantam pangkalan udara Al-Azraq di Yordania yang menjadi salah satu pos logistik penting bagi militer AS di kawasan tersebut.
Di tengah kecamuk senjata, AS juga memperketat tekanan ekonomi dengan membekukan aset kripto senilai lebih dari 130 juta dolar AS yang diduga kuat terafiliasi dengan Bank Sentral Iran. Langkah pembekuan aset digital ini dilakukan Kementerian Keuangan AS demi memutus rantai pendanaan militer Teheran yang kerap menggunakan celah mata uang kripto untuk menghindari sanksi internasional. Hingga kini, situasi di kawasan Teluk masih berada dalam status siaga satu seiring dengan penutupan ruang udara komersial di atas beberapa negara Arab.