Ketegangan Meningkat, AS Luncurkan Serangan Malam Keempat dan Blokade Laut Iran
- Militer Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan meluncurkan serangan udara malam keempat berturut-turut.
- Presiden Donald Trump mengancam akan mengebom infrastruktur sipil Iran jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan.
- Iran membalas dengan mengeklaim telah menyerang berbagai aset militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Ketegangan di Timur Tengah kian membara setelah militer Amerika Serikat (AS) resmi memberlakukan kembali blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Tidak hanya itu, pasukan Pentagon juga meluncurkan serangan udara malam keempat berturut-turut ke wilayah Iran secara masif. Langkah agresif ini diambil setelah pihak militer AS menuduh Iran telah menyerang tujuh kapal komersial dalam sepekan terakhir yang menewaskan serta melukai belasan awak kapal.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat sampai tujuannya tercapai. 'Serangan terhadap Iran akan terus berlanjut sampai saya katakan ini sudah cukup,' ujar Trump dalam wawancara di stasiun televisi Fox News. Trump bahkan memperbarui ancamannya untuk menargetkan infrastruktur sipil penting seperti jembatan dan pembangkit listrik jika Teheran tetap keras kepala dan menolak tawaran perundingan baru.
Respons keras langsung datang dari pemerintah Iran yang mengecam serangan tersebut karena telah merenggut nyawa puluhan warga sipil. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyatakan bahwa lebih dari 30 orang sipil tewas akibat serangan bom AS di wilayah selatan negara itu dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan dengan menargetkan pusat logistik militer dan pangkalan udara AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Konflik yang kian memanas ini juga mulai berimbas pada sektor ekonomi global, termasuk menekan pertumbuhan ekonomi negara sekutu dagangnya. China melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang melambat di angka 4,3%, berada di bawah target pasar akibat lonjakan biaya energi global yang dipicu oleh perang ini. Selain itu, arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan mandek dan sebagian besar kapal terpaksa mematikan sinyal pelacak GPS demi menghindari wilayah blokade maritim AS.
Di dalam negeri AS sendiri, kebijakan perang Trump mulai menuai penolakan keras dan memecah suara di tingkat parlemen. Senat dari faksi Demokrat memblokir paket kebijakan pertahanan tahunan (NDAA) sebagai bentuk protes atas absennya strategi jangka panjang yang jelas dari pemerintah. Beberapa senator senior menegaskan tidak akan meloloskan anggaran militer tersebut selama administrasi Trump terus mengucurkan dana untuk operasi ofensif yang dinilai ilegal tanpa adanya persetujuan resmi dari Kongres.