TPA Sarimukti Kritis, DLH Cimahi "Serbu" Ratusan Sekolah Demi Pangkas Ritase Sampah
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi menargetkan pengurangan ritase pengiriman sampah ke TPA Sarimukti melalui gerakan edukasi di lingkungan sekolah.
- Edukasi pengelolaan sampah ini dilakukan serentak di 167 SD dan SMP se-Kota Cimahi selama masa MPLS dengan mengerahkan 20 tim paralel.
- Para siswa didorong untuk menerapkan kebiasaan membawa tumbler dan wadah makan sendiri guna menekan timbulan sampah plastik sekali pakai.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi bergerak cepat mengantisipasi ancaman krisis sampah dengan menyasar sektor pendidikan. Pemerintah setempat kini membidik pengurangan ritase pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti melalui pembentukan kebiasaan baru di kalangan pelajar. Edukasi yang disisipkan dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ini menjadi strategi jangka panjang untuk menanamkan karakter peduli lingkungan sejak usia dini.
Program sosialisasi pengelolaan sampah ini digelar secara masif dan serentak di 167 SD serta SMP yang tersebar di seluruh wilayah Kota Cimahi. Untuk memastikan pesan tersampaikan dengan efektif, DLH menerjunkan sedikitnya 20 tim yang bekerja secara paralel menjangkau ribuan siswa baru. Langkah ini diambil karena volume sampah dari wilayah perkotaan dinilai kian mengkhawatirkan jika tidak ditekan langsung dari sumbernya.
Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menegaskan bahwa persoalan pelik mengenai sampah tidak akan pernah selesai jika pemerintah hanya mengandalkan proses pengangkutan dan pengolahan di hilir. Menurutnya, kunci utama dari penyelesaian masalah ini berada pada perubahan perilaku konsumsi masyarakat. "Kalau semuanya bisa melakukan pemilahan dengan baik, diharapkan juga akan bisa mengurangi ritase yang harus ke TPA Sarimukti," ujar Chanifah saat meninjau langsung kegiatan edukasi di SDN Baros Mandiri 4 Cimahi.
Lebih lanjut, Chanifah mengakui bahwa mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat bukanlah perkara mudah dan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Maka dari itu, institusi pendidikan dipilih sebagai garda terdepan untuk memulai revolusi mental peduli lingkungan ini. "Dan memang kegiatan ini tidak bisa sesaat, karena ini harus terus-menerus kita lakukan," tutur Chanifah menjelaskan strategi instansinya.
Dalam rangkaian materi MPLS tersebut, para siswa baru diajak untuk melek terhadap dampak buruk lingkungan akibat penumpukan sampah yang tidak terkelola. Tidak sekadar teori, mereka juga langsung diajarkan langkah nyata seperti kewajiban membawa tumbler dan wadah makan pribadi dari rumah. Gerakan sederhana ini diyakini mampu memangkas volume sampah plastik sekali pakai secara signifikan di area kantin sekolah.
Chanifah optimistis jika pendidikan karakter ini konsisten diterapkan, ancaman status darurat sampah di Bandung Raya tidak perlu terulang kembali di masa depan. Upaya preventif ini dirancang agar generasi penerus memiliki tanggung jawab moral yang lebih tinggi terhadap kebersihan kota. "Dunia pendidikan menjadi salah satu sasaran utama, karena sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan budaya hidup bersih serta ramah lingkungan," pungkasnya.