Cimahi Darurat Sampah, Langkah Cerdas DLH Manfaatkan Ratusan Sekolah Demi Ubah Perilaku Siswa
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 untuk mengedukasi siswa baru mengenai pengelolaan sampah.
- Program ini menyasar 167 sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Cimahi dengan mengerahkan 56 personel lapangan sepanjang 13-17 Juli 2026.
- Para siswa baru diwajibkan membawa tumbler dan wadah makan sendiri guna menekan timbulan plastik sekali pakai serta belajar memilah sampah dari sumbernya.
Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memutar otak untuk mengatasi persoalan sampah yang tak kunjung usai. Tidak ingin sekadar fokus pada penanganan di hilir atau tempat pembuangan akhir, DLH Kota Cimahi kini membidik sektor hulu dengan menanamkan budaya pilah sampah sejak dini. Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 pun dimanfaatkan secara masif sebagai pintu masuk untuk mengubah perilaku generasi muda.
Gerakan edukasi lingkungan yang berlangsung maraton sejak tanggal 13 hingga 17 Juli 2026 ini menyasar total 167 institusi pendidikan tingkat dasar dan menengah pertama di seluruh penjuru wilayah. Berdasarkan rincian data resmi, terdapat 119 SD dan 48 SMP yang menjadi fokus utama sosialisasi. Langkah agresif ini diambil demi memastikan pemahaman mengenai konsep keberlanjutan lingkungan dapat menyebar secara merata dan tidak hanya terpusat di area perkotaan saja.
Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menegaskan bahwa seluruh sekolah yang masuk dalam daftar target berhasil dijangkau tanpa ada yang terlewat. Tim di lapangan bekerja ekstra keras demi memberikan wawasan baru bagi anak-anak didik yang baru saja memasuki fase persekolahan baru. "Sebanyak 167 sekolah yang bergerak kita laksanakan, Alhamdulillah Dinas Lingkungan Hidup bisa mengunjungi semuanya dengan melaksanakan pengenalan tentang lingkungan, khususnya tentang sampah," ungkap Chanifah saat memantau kegiatan di SDN Baros Mandiri 4 Cimahi.
Bagi DLH Kota Cimahi, masa transisi siswa baru merupakan momentum emas untuk menyuntikkan karakter positif sebelum mereka terpengaruh kebiasaan buruk di lingkungan sekitar. Sebanyak 56 personel khusus dikerahkan, di mana 40 orang di antaranya ditugaskan sebagai Tim Sosialisasi dan Edukasi yang berinteraksi langsung dengan para siswa di kelas. Materi yang disampaikan tidak main-main, mulai dari bahaya sampah plastik bagi kesehatan, prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), hingga metode pemilahan sampah organik dan anorganik.
Perubahan nyata pun langsung diterapkan di area sekolah melalui kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai yang selama ini menyumbang volume sampah terbesar. Para murid baru diimbau kuat untuk membawa peralatan makan dan minum sendiri dari rumah masing-masing demi meminimalkan potensi limbah baru harian. "Minimal mereka melakukan pengurangan sampah, sekolah harus membawa tumbler dan misting sehingga tidak semuanya menggunakan plastik sekali pakai, kemudian juga harus melakukan pemilahan sampah," pungkas Chanifah.