Komitmen Jawa Timur Percepat EBT, Bidik Target Net Zero Carbon 2050
- Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen mempercepat peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) demi mencapai target nasional net zero carbon pada 2050.
- Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya efisiensi konsumsi daya serta peralihan sumber energi di sektor rumah tangga maupun industri.
- Komitmen ini diakselerasi melalui kolaborasi lintas sektor dalam ajang Manufacturing Surabaya 2026 dan Indonesia Energy Week Surabaya di Grand City Convex.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyatakan komitmen kuatnya untuk terus meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya. Langkah strategis ini diambil guna menyokong target pemerintah pusat dalam mencapai ekonomi bebas emisi karbon atau net zero carbon economy pada tahun 2050 mendatang. Upaya transisi energi tersebut dinilai krusial mengingat Jatim merupakan salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menjelaskan bahwa realisasi target tersebut membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dilakukan secara instan. Emil memaparkan bahwa transformasi energi ini harus dicicil sejak dini melalui berbagai sektor. Hal ini mencakup penataan penggunaan tenaga listrik hingga restrukturisasi energi yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga maupun sektor industri manufaktur berskala besar.
Menurut Emil, ada dua pilar utama untuk menyukseskan transisi energi terbarukan di Jawa Timur saat ini. Pilar pertama adalah peralihan sumber energi fosil ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan secara bertahap. Sedangkan pilar kedua adalah konsistensi dalam melakukan konservasi energi, yaitu memangkas penggunaan kilowatt-hour (KWH) tanpa menurunkan output produktivitas industri tersebut.
'Nah, ini kan nggak bisa ujug-ujug, harus dicicil dari sekarang. Ada dalam kaitan dengan penggunaan tenaga listriknya, ada energi yang langsung dikonsumsi oleh berbagai pengguna, baik itu konsumen rumah tangga maupun industri,' ujar Emil seusai membuka pameran Indonesia Energy Week Surabaya 2026 di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (15/7/2026). Ia juga mengapresiasi inovasi teknologi mutakhir yang dipamerkan karena dinilai mampu menstimulasi efisiensi energi di sektor manufaktur.
Pada kesempatan yang sama, Country General Manager PT Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, mengamini bahwa industri manufaktur modern kini tidak bisa dipisahkan dari isu elektrifikasi dan energi hijau. Penyelenggaraan pameran berskala internasional ini diharapkan mampu mempertemukan para pelaku bisnis dari berbagai negara untuk saling berkolaborasi. Langkah sinergis ini diyakini akan memperkuat daya saing industri, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.