Loading...

Alasan Sultan Brunei Cabut Gelar Kerajaan Menantu

Ilustrasi Istana Kerajaan Brunei Darussalam tempat pengumuman pencabutan gelar

Ilustrasi Istana Kerajaan Brunei Darussalam tempat pengumuman pencabutan gelar

Share:

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah secara mendadak mencabut gelar kerajaan menantu perempuannya, Raabidatul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah. Pencabutan ini dilakukan akibat perilaku Adawiyyah yang dianggap tidak pantas dan mencoreng nama baik institusi kerajaan.

“Keputusan pencabutan gelar merupakan titah kerajaan yang dikeluarkan Sultan," ujar Kantor Kepala Protokol Kerajaan.”

— Sultan Brunei Hassanal Bolkiah

Menantu perempuan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, Raabidatul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah, mendadak menjadi sorotan publik internasional usai gelar kerajaannya dicabut pada pekan lalu. Keputusan mengejutkan ini langsung menarik perhatian luas dari berbagai media dalam dan luar negeri.

Menurut laporan RTB News, pencabutan gelar tersebut dilakukan karena perilaku Adawiyyah yang dinilai tak pantas bagi seorang istri anggota keluarga kerajaan. Tindakan tersebut dianggap telah mencoreng nama baik institusi kerajaan serta menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Sultan Bolkiah.

Kantor Kepala Protokol Kerajaan (Grand Chamberlain) secara resmi mengumumkan pencabutan gelar Adawiyyah pada Sabtu, 8 Agustus 2026. "Keputusan pencabutan gelar merupakan titah kerajaan yang dikeluarkan Sultan," demikian pernyataan resmi dari pihak istana.

Meskipun demikian, pihak istana tidak merinci secara detail perilaku yang dimaksud ataupun memberikan keterangan lebih jauh mengenai insiden spesifik yang memicu pencopotan gelar kerajaannya tersebut.

Latar Belakang dan Sosok Raabidatul Adawiyyah

Raabidatul Adawiyyah sendiri merupakan istri dari Pangeran 'Abdul Malik Hassanal Bolkiah, yang merupakan anak keenam dari Sultan Hassanal Bolkiah. Keduanya melangsungkan pernikahan pada tahun 2015 dan telah dikaruniai empat orang anak dari ikatan pernikahan tersebut.

Perempuan kelahiran tahun 1992 ini merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara. Adawiyyah diketahui berasal dari keluarga terpandang yang memiliki status sebagai bangsawan atau pengiran di Brunei Darussalam.

Sejak masa kanak-kanak, Adawiyyah telah mengenyam pendidikan di berbagai lembaga pendidikan bergengsi di negaranya. Ia tercatat pernah menempuh studi di Al-Falaah School, Rimba I Primary School, Menglait Secondary School, hingga Rimba Secondary School.

Setelah merampungkan pendidikan sekolah menengahnya pada tahun 2012, Adawiyyah sempat berkarier di dunia profesional. Ia pernah bekerja di perusahaan konsultan IT terkemuka di Brunei sebagai System Data Analyst sebelum beralih menjadi IT Instructor di HAD Technologies.

Dampak dan Respons Publik atas Keputusan Istana

Keputusan tegas yang diambil oleh Sultan Brunei ini langsung memicu gelombang perbincangan di tengah masyarakat luas. Langkah ini memperlihatkan betapa ketatnya aturan etika dan kehormatan yang dijunjung tinggi di dalam lingkungan keluarga kerajaan Brunei Darussalam.

Berbagai pihak, termasuk pengamat tata krama istana, menilai bahwa titah pencabutan gelar ini menunjukkan komitmen Sultan dalam menjaga marwah dan integritas institusi monarki. Kesalahan sekecil apa pun yang mencederai nama baik keluarga besar kerajaan dipandang mendapat perhatian serius.

Hingga kini, publik masih terus memantau perkembangan berita ini guna mengetahui apakah akan ada keterangan lanjutan dari pihak istana terkait alasan mendalam di balik pencopotan gelar tersebut. Kehebohan ini juga menjadi pengingat akan beratnya peran publik yang diemban oleh para kerabat kerajaan.

Kesimpulannya, insiden pencabutan gelar ini menggarisbawahi pentingnya menjaga perilaku terhormat bagi siapa pun yang berada di lingkaran kekuasaan tertinggi. Istana Brunei tetap konsisten menegakkan disiplin tinggi demi menjaga kehormatan kesultanan di mata dunia.

Leave a Comment