Sejumlah penumpang yang mengawal jenazah untuk dibawa ke Nias terpaksa tertahan selama dua hari di Bandara Soekarno-Hatta. Penundaan ini terjadi akibat penutupan sementara bandara menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“"Kita sebenarnya sedang mengawal almarhum Om, Paman Iwan Zebua, yang mana kita mau kirim ke Nias, mau kita kebumikan ke Nias secara adat, kurang lebih begitu," ujar Frengki Lase.”
— Bandara Soekarno-Hatta
Sejumlah penumpang yang hendak membawa jenazah ke Nias tertahan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, selama dua hari imbas penutupan sementara bandara akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kondisi ini membuat pihak keluarga harus bersabar di tengah ketidakpastian jadwal penerbangan yang terus mengalami penundaan.
Salah satunya Frengki Lase, keponakan almarhum Iwan Zebua, yang bersama dua anggota keluarga lainnya tengah mengawal jenazah untuk dibawa ke Desa Loloanaa, Botomuzoi, Nias. Ia mengatakan jenazah Iwan telah berada di bandara selama dua hari penuh.
"Kita sebenarnya sedang mengawal almarhum Om, Paman Iwan Zebua, yang mana kita mau kirim ke Nias, mau kita kebumikan ke Nias secara adat, kurang lebih begitu," kata Frengki kepada CNNIndonesia.com di Bandara Soetta, Selasa (8/9). Ia menambahkan bahwa situasi tersebut cukup menimbulkan kesedihan bagi keluarga.
Akibat penundaan tersebut, pihak keluarga juga harus menanggung pengeluaran tambahan yang tidak terencana selama menunggu kepastian keberangkatan di area bandara.
Kendala Alternatif Jalur Laut dan Pembengkakan Biaya
Pihak keluarga sebelumnya sempat mencari alternatif pengiriman jenazah melalui jalur laut untuk menghindari penundaan yang terlalu lama di bandara. Namun, berdasarkan informasi yang mereka terima, perjalanan menuju Nias melalui jalur laut juga berpotensi mengalami keterlambatan yang signifikan.
"Sebenarnya kita sudah cari tahu dan tanya-tanya apakah ada opsi lain, namun dari info yang kami dapat, kalau memang jalur laut pun kemungkinan ada keterlambatan maupun keterhambatan juga dalam perjalanan menuju Pulau Nias," ujarnya.
Oleh karena itu, keluarga memutuskan untuk tetap menunggu kepastian penerbangan via udara meskipun harus menghadapi berbagai hambatan tambahan selama di bandara.
Frengki mengaku keluarga harus menanggung pengeluaran tambahan selama menunggu keberangkatan. Menurutnya, biaya tambahan tersebut mencapai sekitar Rp1,5 juta yang sebenarnya tidak masuk dalam rencana awal perjalanan mereka.
Read Also
Baku Tembak di Yahukimo Papua, Empat Anggota KKB Pimpinan Eden Sawi Tewas
Satgas Operasi Damai Cartenz menembak mati empat anggota Kelompok Kriminal...
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 8 September 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan...
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Tol Bakauheni-Terbanggi Besar Tetap Beroperasi Normal
Meskipun Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026),...
Hoaks Mahfud MD Minta Tilang Lalu Lintas Dihapus Beredar di Media Sosial
Informasi yang mengeklaim mantan Menko Polhukam Mahfud MD meminta agar...
Pembukaan Kembali Bandara dan Harapan Keluarga
Bandara Soetta sebelumnya memang sempat menghentikan operasional sementara akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membahayakan penerbangan. Bandara tersebut kemudian dilaporkan kembali dibuka pada Selasa pukul 00.01 WIB.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa sejumlah bandara utama seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, dan Bandara Husein Sastranegara telah kembali aktif beroperasi. "Per tanggal 8 September pukul 00.01 WIB, Bandara Soekarno-Hatta Banten, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Bandara Husein Sastranegara Bandung dinyatakan aktif kembali," kata Dudy.
Meskipun bandara telah dibuka kembali, Frengki dan keluarganya mengaku masih belum mendapat kepastian penuh terkait jadwal penerbangan mereka yang sempat kembali tertunda beberapa jam.
"Kami berharap semoga nanti kami dapat berangkat dan terbang sekitar pukul 09.00 sesuai dengan jadwal yang ditata kembali," tutur Frengki menutup perbincangan.