Timur Tengah Membara, AS Ngamuk Gempur Iran 8 Malam Berturut-turut Usai Pasukannya Tewas!
- Militer Amerika Serikat merampungkan gelombang serangan udara malam kedelapan secara berturut-turut ke wilayah Iran.
- Eskalasi ini dipicu oleh tewasnya tiga personel militer AS akibat serangan pesawat nirawak dan persenjataan Iran di Yordania dan Irak.
- Ketegangan ini mengancam stabilitas pasokan energi global mengingat konflik berpusat di jalur strategis Selat Hormuz.
Situasi di kawasan Timur Tengah kian membara setelah militer Amerika Serikat (AS) mengamuk dan meluncurkan serangan udara ke Iran selama delapan malam berturut-turut. Langkah agresif Washington ini diambil sebagai respons langsung setelah setidaknya tiga personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan yang dilancarkan oleh pihak Iran di Yordania dan Irak baru-baru ini.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa rentetan serangan udara terbaru dimulai sejak Sabtu malam waktu setempat guna melumpuhkan kemampuan militer Iran. Fokus target AS kali ini meliputi fasilitas pengawasan pesisir pantai serta sistem pertahanan udara milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). "Langkah ini diambil untuk mengikis kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz," tegas perwakilan CENTCOM dalam keterangan resminya.
Berdasarkan laporan media lokal Iran, dentuman ledakan keras terdengar di beberapa titik strategis seperti Sirik di wilayah selatan, Shadegan yang berbatasan dengan Irak, hingga area kilang minyak di Abadan. Bahkan, Organisasi Energi Atom Iran mengecam keras serangan AS yang dituding menyasar proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Darkhovin. Meskipun demikian, badan pengawas nuklir internasional (IAEA) masih terus melakukan investigasi mendalam terkait dampak kerusakan di lapangan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington tidak akan mundur selangkah pun dalam menghadapi agresi Teheran. Melalui pernyataan resminya di media sosial, Hegseth menyatakan bahwa gugurnya para prajurit AS justru semakin memperkuat tekad negara tersebut untuk melakukan pembalasan yang setimpal. "Pengorbanan mereka hanya akan memperkuat resolusi dan tindakan tegas kami di kawasan tersebut," kata Hegseth.
Konflik yang kian tidak terkendali ini juga menyeret negara-negara sekutu di kawasan Teluk seperti Kuwait dan Bahrain yang melaporkan adanya hujan drone serta rudal kiriman Iran. Selat Hormuz kini menjadi titik paling kritis mengingat jalur perairan ini mengontrol hampir seperlima dari total perdagangan minyak mentah dunia. Jika perang terbuka ini terus berlanjut tanpa adanya gencatan senjata baru, dipastikan inflasi global dan krisis energi akut akan mengancam perekonomian dunia dalam waktu dekat.