Ketegangan Meningkat, AS Gempur Iran dengan Ratusan Serangan Udara
- Militer Amerika Serikat meluncurkan ratusan serangan udara ke wilayah pesisir selatan Iran dan sekitar Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.
- Serangan udara tersebut menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai sekitar 300 orang di tengah pengetatan blokade laut oleh AS.
- Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan sekitar, memicu kekhawatiran eskalasi perang yang lebih luas.
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah meluncurkan ratusan serangan udara ke berbagai wilayah pertahanan di Iran sepanjang pekan lalu. Langkah agresif ini tetap dilakukan oleh pihak Pentagon meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah mengupayakan kesepakatan gencatan senjata. Menurut laporan resmi dari otoritas kesehatan Iran, rangkaian serangan udara tanpa henti ini setidaknya telah menewaskan 35 orang dan menyebabkan lebih dari 300 warga lainnya mengalami luka-luka.
Pihak militer AS yang kini kembali menerapkan blokade angkatan laut penuh terhadap Iran menyatakan bahwa target operasi mereka berfokus pada situs-situs militer strategis. Target utama serangan tersebut tersebar di sepanjang pesisir selatan Iran serta pulau-pulau pertahanan di sekitar Selat Hormuz. Langkah pembatasan perairan ini diprediksi akan kembali melumpuhkan lalu lintas kapal dagang internasional yang baru saja mulai pulih dalam beberapa pekan terakhir.
Sebagai respons atas serangan udara masif tersebut, militer Iran langsung melancarkan aksi balasan dengan menggempur sejumlah fasilitas militer AS yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah. Eskalasi saling serang ini memicu kekhawatiran global akan kembalinya situasi perang terbuka berskala besar di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem al-Budaiwi, secara tegas mengecam serangan balasan Iran yang juga menyasar wilayah sekutu AS seperti Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Ledakan-ledakan besar dilaporkan terdengar di puluhan kota pesisir dan pulau strategis Iran seperti Bandar Abbas, Bushehr, Chabahar, Qeshm, hingga Isfahan. Wilayah perairan selatan Iran memang dikenal memiliki lebih dari 30 pulau yang berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk memantau jalur pelayaran internasional sekaligus lokasi penempatan rudal taktis. Analis pertahanan asal Teheran, Mehdi Yazdi, menilai bahwa kendali atas Selat Hormuz merupakan satu-satunya alat penjamin keamanan sekaligus posisi tawar terkuat bagi Iran saat ini.
Sebelum konflik bersenjata ini pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap harinya untuk mengangkut hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia. Kini, dengan blokade baru AS dan ancaman penutupan jalur maritim Bab al-Mandeb oleh kelompok Houthi di Yaman, jalur pasokan energi dunia dipastikan akan mengalami kelumpuhan hebat. Jika kedua jalur perlintasan utama ini benar-benar ditutup secara total, maka seperempat pasokan energi global dan mayoritas komoditas ekspor Asia ke Eropa dipastikan akan terputus.