Kisah Pilu Migran Etiopia di Arab Saudi, Menanti Eksekusi Mati Tanpa Kepastian
- Puluhan migran asal Etiopia dilaporkan sedang berada di lorong kematian (death row) di Penjara Khamis Mushait, Arab Saudi, atas dakwaan kasus narkoba.
- Para tahanan mengaku tidak mendapatkan akses pengacara, dipaksa menandatangani dokumen yang tidak dipahami, hingga mengalami penyiksaan fisik oleh aparat.
- Organisasi hak asasi manusia menyoroti lonjakan tajam eksekusi mati di Arab Saudi yang didominasi oleh warga negara asing terkait kasus narkotika non-kekerasan.
Amanuel terbangun setiap hari dengan perasaan cemas yang luar biasa karena tidak pernah tahu kapan hidupnya akan berakhir. Di Arab Saudi, ketukan pintu sel dari penjaga penjara sering kali menjadi pertanda bahwa waktu eksekusi telah tiba tanpa ada kesempatan memberikan telepon perpisahan atau sekadar menikmati makanan terakhir. Nasib tragis ini dialami oleh puluhan migran asal Etiopia yang kini tengah mendekam di penjara Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi, atas dakwaan kasus narkotika.
'Saya seperti orang mati yang berjalan. Setelah teman-teman saya dieksekusi, saya tidak bisa makan dan minum dengan tenang,' ujar Amanuel, yang menggunakan nama samaran demi keselamatan dirinya saat diwawancarai dari dalam penjara. Di dalam satu sel yang ditempatinya saja, terdapat sekitar 60 warga negara Etiopia yang telah dijatuhi hukuman mati. Kasus ini mencerminkan fenomena yang lebih besar mengenai kerentanan para pekerja migran yang melintasi perbatasan demi mencari kehidupan yang lebih layak.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) mencatat adanya lonjakan drastis dalam penerapan hukuman mati di negara kerajaan tersebut. Sepanjang tahun lalu, tercatat ada 356 orang yang dieksekusi mati di Arab Saudi, yang menjadi angka tertinggi dalam sejarah modern wilayah tersebut. Dari total eksekusi tersebut, sebanyak 240 orang di antaranya dihukum atas kasus narkoba, di mana mayoritas korbannya merupakan warga negara asing, termasuk gelombang besar dari kawasan Tanduk Afrika.
Direktur Hukum Organisasi Hak Asasi Manusia Eropa-Saudi (ESOHR), Taha al-Hajji, menyatakan keprihatinan yang mendalam terkait proses peradilan yang dinilai cacat hukum. Menurutnya, persidangan kasus berat di Arab Saudi secara rutin gagal memenuhi standar minimum keadilan yang berlaku secara internasional. Para terdakwa migran kerap ditolak aksesnya terhadap perwakilan hukum yang sah serta tidak diberikan penerjemah yang memadai, sehingga mereka divonis mati tanpa benar-benar memahami proses hukum yang sedang berjalan.
Amanuel menceritakan bahwa dirinya melarikan diri dari wilayah konflik Tigray di Etiopia dan sempat terdampar selama dua tahun di Yaman sebelum akhirnya berhasil menyeberang ke Arab Saudi. Di sana, ia sempat bekerja sebagai penggembala domba sebelum ditawari oleh seorang warga lokal untuk mengantarkan barang menggunakan mobil. Malang bagi Amanuel, kendaraan tersebut dihentikan oleh polisi yang kemudian menemukan paket ganja di dalamnya. Setelah penangkapan, ia mengaku disiksa dengan kabel listrik dan dipaksa menandatangani dokumen berbahasa Arab yang sama sekali tidak dipahaminya.
Hingga saat ini, pihak berwenang Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi para tahanan asing ini kepada media. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Etiopia menyatakan bahwa pihaknya terus menggunakan saluran diplomatik dan konsuler untuk melindungi warganya di luar negeri tanpa memberikan komentar spesifik mengenai kasus perorangan demi menjaga sensitivitas proses hukum. Bagi para migran seperti Amanuel, setiap detik di dalam sel adalah penantian yang mencekam terhadap ketukan pintu yang bisa datang kapan saja.