Trump Inginkan Hari Lebih Terang, Rencana Hapus Tradisi Ubah Jam di AS Malah Terancam Kandas di Senat
- DPR Amerika Serikat telah meloloskan RUU Sunshine Protection Act yang akan membuat daylight saving time berlaku permanen secara nasional.
- RUU tersebut kini menghadapi jalan terjal di tingkat Senat karena penolakan dari belasan senator lintas partai yang mengkhawatirkan dampak geografis.
- Presiden Donald Trump sangat mendukung RUU ini demi mendapat sore hari yang lebih terang, namun penolakan kuat muncul karena risiko pagi hari yang gelap gulita.
Langkah Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri tradisi tahunan mengubah jarum jam dua kali setahun kini berada di ujung tanduk. Meskipun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS baru saja meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Sunshine Protection Act dengan kemenangan mutlak 308-117 suara, regulasi ini menghadapi tembok besar di tingkat Senat. RUU yang digadang-gadang akan menetapkan waktu musim panas atau daylight saving time (DST) secara permanen ini terancam mati sebelum sempat disahkan menjadi undang-undang.
Padahal, penghapusan ritual "spring forward" dan "fall back" ini mendapat dukungan penuh dari Presiden AS Donald Trump. Melalui akun media sosial miliknya, Trump sempat melontarkan antusiasme tinggi dengan menyebut kebijakan ini sebagai keputusan yang sangat mudah untuk diambil demi menghadirkan hari yang lebih panjang dan cerah bagi warga Amerika. "Ini adalah hal yang mudah! Ini berarti hari yang lebih panjang dan lebih cerah. Dan siapa yang bisa menentang hal itu?" tulis Trump yang melihat potensi ekonomi dan psikologis dari sore hari yang lebih panjang.
Namun, realitas politik di Senat menunjukkan peta kekuatan yang jauh berbeda dari ambisi Trump. Senator Republik asal Arkansas, Tom Cotton, memimpin narasi penolakan dengan argumen bahwa memajukan jam satu jam secara permanen saat musim dingin akan membuat matahari terbit pada jam yang sangat telat. Laporan terbaru dari media politik Semafor mengungkapkan bahwa Cotton tidak sendirian, melainkan didukung oleh sedikitnya belasan senator dari Komite Perdagangan Senat, termasuk John Thune dari Dakota Selatan dan Amy Klobuchar dari Minnesota, yang siap menjegal RUU ini.
Polemik ini sejatinya berakar pada masalah geografis yang sangat kontras di daratan Amerika Serikat. Bagi wilayah selatan seperti Florida tempat Trump tinggal, matahari terbit pada pukul 08.04 pagi di puncak musim dingin mungkin masih bisa ditoleransi. Namun, bagi negara bagian di sisi utara dan ujung barat zona waktu seperti wilayah Alaska dan Detroit, matahari baru akan terbit mendekati pukul 09.30 bahkan pukul 11.15 siang, yang dinilai sangat berbahaya bagi keselamatan anak sekolah serta para pekerja lapangan.
Para ahli kesehatan dari American Medical Association dan pakar tidur sebenarnya sepakat bahwa mengubah jam dua kali setahun mengganggu ritme sirkadian tubuh manusia. Kendati demikian, mereka lebih menyarankan penerapan waktu standar (standard time) secara permanen ketimbang mengikuti keinginan Trump yang memilih waktu musim panas permanen. Mengingat trauma sejarah pada tahun 1974 saat eksperimen serupa dicabut dalam tiga bulan karena protes masyarakat atas kondisi pagi yang gelap gulita, Senat tampaknya lebih memilih mempertahankan status quo demi menjaga keseimbangan wilayah.