Kerap Jadi Target Pembunuhan, Trump Ngaku Tak Ada yang Kasih Tahu Bahayanya Jadi Presiden AS
- Presiden AS Donald Trump kerap menghadapi ancaman pembunuhan nyata yang berasal dari pihak domestik maupun luar negeri seperti Iran.
- Di balik pintu tertutup Gedung Putih, Trump justru sering berguyon secara satir mengenai risiko pembunuhan yang mengintai nyawanya.
- Para ajudan menegaskan bahwa rentetan ancaman keamanan ini sama sekali tidak memengaruhi proses pengambilan kebijakan luar negeri AS.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka terus menyuarakan ancaman pembunuhan baru yang dihadapinya dari Iran. Namun di balik pintu tertutup Gedung Putih, sikap Trump justru berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan di media sosial. Berdasarkan kesaksian orang-orang terdekatnya, sang presiden rupanya jarang membahas masalah keamanan ini secara serius dalam pembicaraan internal sehari-hari.
Meski demikian, Trump tetap terpengaruh dengan caranya sendiri oleh ancaman konstan yang datang dari aktor domestik maupun luar negeri. Ia dilaporkan memiliki pandangan fatalistik terhadap garis hidupnya, sebuah cara pandang yang semakin mendalam sejak ia lolos dari upaya pembunuhan di Butler, Pennsylvania, sekitar dua tahun lalu. Sejak peristiwa berdarah tersebut, serangkaian plot lanjutan terus mengincar dirinya dan lingkaran terdekatnya di pemerintahan.
Ketegangan dengan Teheran sendiri memuncak menyusul runtuhnya gencatan senjata dengan Iran baru-baru ini, di mana Trump sempat berseloroh bahwa dirinya adalah 'target Nomor Satu' bagi negara tersebut. Ancaman nyata ini bahkan sempat memaksa Trump membatalkan penggunaan pesawat kepresidenan Air Force One yang baru saat berkunjung ke Turki karena kekhawatiran Secret Service terhadap sistem pertahanan udara pesawat. Walau terkesan mencekam, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump sering kali menyikapi risiko ini dengan humor satir.
'Ia sering kali mengatakannya secara privat: 'Tidak ada yang memberi tahu saya betapa berhayanya menjadi seorang presiden, dan jika mereka memberi tahu saya, saya mungkin tidak akan mencalonkan diri.' Ia melontarkan komentar seperti itu sebagai candaan, namun ada realitas nyata di balik ucapan tersebut,' ujar pejabat Gedung Putih itu kepada Semafor. Sikap serupa juga ditunjukkan Trump saat berbincang dengan komentator Joe Rogan dalam acara UFC, di mana Trump dengan santai menjawab, 'Kita semua pasti akan mati dengan suatu cara!' ketika diingatkan soal potensi serangan teror.
Rentetan ancaman ini memaksa otoritas keamanan memperketat pengamanan di Gedung Putih dan mengubah protokol perjalanan kepresidenan. Kendati intelijen mendeteksi bahaya tingkat tinggi, para pembantu dekat Trump menegaskan bahwa ancaman pembunuhan dari Iran tidak pernah memengaruhi keputusan geopolitik AS, termasuk dalam operasi militer. Keamanan yang ketat ini justru dinilai para pengamat telah memperkeras tekad politik Trump dan memperkuat keyakinan pribadinya tentang tempatnya dalam sejarah kepemimpinan Amerika Serikat.