AS Serang Pesisir Iran, Trump Ancam Hancurkan Fasilitas Energi
- Militer Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan udara selama tujuh jam yang menargetkan wilayah pesisir selatan Iran dan Selat Hormuz.
- Korps Garda Revolusi Islam Iran membalas dengan menggempur sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan yordania.
- Presiden AS Donald Trump menegaskan serangan akan terus berlanjut dan mengancam bakal menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan gelombang serangan udara masif ke wilayah Iran. Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut berlangsung selama tujuh jam dan menyasar puluhan target di sepanjang pesisir selatan Iran serta dekat Selat Hormuz. Langkah agresif Washington ini dibarengi dengan penerapan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Teheran.
Serangan udara tersebut langsung memicu respons bersenjata dari pihak Iran melalui pasukan elitenya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan yang menyasar markas Armada Kelima AS di Bahrain serta pusat logistik militer di Mina Abdullah, Kuwait. Selain itu, sistem pertahanan udara Yordania dilaporkan turut mencegat tiga rudal balistik Iran yang mencoba menerobos wilayah udara mereka.
Konflik yang kian meruncing ini membuat kesepakatan gencatan senjata yang sempat ditandatangani pada bulan April lalu berada di ambang kehancuran. Kedua belah pihak kini saling melempar tuduhan mengenai pelanggaran komitmen perdamaian yang awalnya ditujukan untuk mengakhiri perang. Eskalasi terbaru ini pun langsung direspons oleh pasar global dengan melonjaknya harga minyak mentah Brent hingga menembus angka 86 dolar AS per barel.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Trump menyatakan bahwa pasukannya siap memperluas jangkauan target operasi ke sektor-sektor yang lebih vital milik Iran. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk tekanan keras agar pemerintah Teheran bersedia kembali ke meja perundingan sesuai dengan syarat yang diajukan Washington.
'Serangan terhadap Iran akan terus berlanjut sampai saya katakan cukup, dan pada akhirnya kami juga akan menghantam target energi mereka,' ujar Donald Trump dalam wawancara resminya bersama Fox News. Ancaman pembatasan jalur ekspor ini direspons balik oleh IRGC dengan peringatan keras bahwa mereka bisa saja menutup seluruh koridor energi di kawasan strategis tersebut yang selama ini menguntungkan pihak barat.
Untuk mendukung blokade maritim di Selat Hormuz, pihak Pentagon dilaporkan telah menyiagakan sedikitnya 21 kapal perang di perairan tersebut. Blokade ini diprediksi akan sangat mengganggu rantai pasok global mengingat jalur Selat Hormuz merupakan rute krusial bagi seperlima pengiriman minyak dunia. Di sisi lain, Kementerian Keuangan AS juga bergerak di sektor domestik dengan membekukan aset kripto senilai 130 juta dolar AS yang terafiliasi dengan bank sentral Iran.