Krisis Regenerasi Mengancam, Maestro Wayang Bantul Rela Rogoh Kocek Pribadi Demi Gaji Bocah Belajar Tatah
- Jumlah perajin tatah sungging wayang kulit di Padukuhan Gendeng, Bantul, menyusut drastis dari ratusan menjadi hanya tersisa puluhan akibat rentetan krisis.
- Perajin senior Subandi Giyanto konsisten menggelar pelatihan gratis bagi anak-anak setiap hari Sabtu demi menyelamatkan seni tradisi yang hampir punah.
- Untuk memotivasi generasi muda, Subandi rela memberikan uang saku dan makan siang dari kantong pribadinya agar anak-anak bersemangat belajar menatah.
Padukuhan Gendeng di Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, yang sempat berjaya sebagai sentra kerajinan tatah sungging wayang kulit, kini tengah menghadapi ancaman kepunahan nyata. Rentetan krisis ekonomi masa lalu hingga hantaman pandemi Covid-19 telah memaksa ratusan perajin gulung tikar. Saat ini, jumlah perajin yang bertahan menyusut drastis dan hanya menyisakan sekitar 30 orang yang masih aktif memproduksi seni tradisi tersebut.
Kondisi memprihatinkan ini memicu kekhawatiran mendalam bagi Subandi Giyanto, seorang perajin wayang kulit senior berusia 68 tahun yang telah mendedikasikan hidupnya di dunia ini sejak tahun 1965. Demi memutus rantai kepunahan, Subandi secara sukarela membuka kelas pelatihan menatah dan menyungging bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya setiap hari Sabtu. Ia menyadari tanpa adanya langkah konkret yang agresif, keahlian bernilai tinggi ini akan lenyap ditelan zaman.
Langkah unik pun ditempuh oleh pria yang juga berprofesi sebagai pelukis ini untuk menarik minat generasi muda yang mulai acuh pada kebudayaan lokal. Subandi rela merogoh kocek pribadinya untuk memberikan insentif berupa uang saku sebesar Rp20 ribu dan fasilitas makan siang gratis bagi setiap anak yang bersedia datang belajar ke rumahnya. "Biar mereka semangat saya kasih uang saku, dari uang pribadi. Jadi saya kasih Rp20 ribu dan siangnya saya beri makan siang juga," tutur Subandi saat ditemui di kediamannya.
Ketekunan Subandi dinilai wajar mengingat nilai ekonomi dan tingkat kesulitan dari pembuatan karya seni ini sangat tinggi, di mana satu buah wayang kulit kerbau berkualitas premium seperti tokoh Arjuna dapat dihargai hingga Rp1,5 juta. Proses pembuatannya pun memakan waktu hingga satu pekan penuh dengan ketelitian ekstra tinggi. Bahkan untuk pasar internasional, Subandi harus memutar otak menggunakan media kulit kambing agar tatahannya tidak mudah patah saat digunakan dalam kegiatan lokakarya luar negeri.
Upaya heroik sang maestro ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kalurahan Bangunjiwo yang mengakui daerahnya sedang mengalami krisis regenerasi akut. Lurah Bangunjiwo, Parja, memaparkan bahwa data riil di lapangan menunjukkan sisa perajin murni yang benar-benar menekuni tatah sungging kini bahkan menyusut hingga kisaran 10 orang saja. Pihak kelurahan berharap gerakan yang diinisiasi oleh Subandi tidak hanya berdampak di Bangunjiwo, melainkan mampu meluas ke seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) demi mencetak generasi penerus yang andal.