Bikin Merinding, Ini Alasan Menonton Seni Bisa Bikin Bahagia Sekaligus Merawat Perasaan Anda
- Mengapresiasi karya seni pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan merawat perasaan demi meraih kebahagiaan sejati melalui proses menghargai produk kreativitas.
- Antusiasme masyarakat Yogyakarta untuk mengapresiasi seni pertunjukan sangat tinggi, di mana penonton datang bukan sekadar mencari kesenangan instan melainkan menjelajahi karya.
- Ketidakmampuan fokus dan lingkungan yang bising menjadi faktor utama kegagalan penonton dalam menyerap esensi serta keindahan mendalam dari sebuah sajian seni.
Mengapresiasi sebuah karya seni pada hakikatnya bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan sebuah kegiatan mendalam untuk merawat perasaan demi meraih kebahagiaan. Proses menghargai dan menjelajahi setiap detail karya menjadi esensi utama yang membedakan penikmat seni sejati dengan penonton biasa. Hal ini menjadi sorotan penting dalam memandang bagaimana seni berdampak besar pada psikologis manusia.
Menurut Kepala SMK 1 Kasihan yang populer sebagai SMKI Yogyakarta, Agus Suranto, tindakan apresiasi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memberikan penilaian objektif. Dalam acara dialog Pendopo PRO 4 RRI Yogyakarta, beliau menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap karya. "Apresiasi menika menghargai, dados sanes menilai," ujar Agus menekankan bahwa esensinya adalah menghargai, bukan menilai.
Lebih lanjut, Agus tidak menampik bahwa secara umum masyarakat memang lebih tertarik pada seni yang bersifat pertunjukan karena adanya kebutuhan kuat akan hiburan. Ketika penonton merasa senang dan terhibur, maka salah satu fungsi sosial dari pementasan tersebut dianggap telah tercapai dengan baik. Namun, ia mengingatkan kembali bahwa tidak semua jenis seni diciptakan di dunia ini hanya untuk tujuan menghibur penontonnya.
Para seniman yang berkonsentrasi pada seni murni sering kali menciptakan karya semata-mata untuk mengungkapkan dan mengekspresikan rasa indah yang bergejolak di dalam diri mereka. Begitu karya tersebut selesai diwujudkan dalam bentuk produk atau karya fisik, maka proses kreatif sang seniman sudah dianggap selesai sepenuhnya. Di Yogyakarta sendiri, antusiasme masyarakat untuk hadir dan mengapresiasi seni pertunjukan dinilai masih sangat tinggi sampai saat ini.
Banyak penonton di kota budaya ini yang datang ke ruang pameran atau gedung pertunjukan bukan untuk mencari kesenangan instan, melainkan untuk menghargai dan menjelajahi karya tersebut. Agus mengungkapkan bahwa seni memang idealnya dijelajahi secara mendalam meskipun dalam prosesnya terkadang memunculkan rasa yang tidak nyaman. Menurutnya, ada banyak godaan serta faktor eksternal yang membuat seorang penonton gagal dalam menyerap esensi murni dari sebuah sajian seni.
Salah satu pemicu utama kegagalan dalam mengapresiasi seni adalah ketidakmampuan penonton untuk menjaga fokus mereka selama pertunjukan berlangsung. "Banyak penonton yang secara fisik sudah berada di depan panggung atau di dalam gedung pertunjukan, namun pikiran mereka masih tertinggal di tempat lain," katanya. Selain faktor internal, hiruk-pikuk dan suasana lingkungan sekitar yang tidak kondusif juga andil dalam merusak konsentrasi karena menikmati seni membutuhkan ketenangan jiwa yang utuh.
Kendati demikian, bagi sebagian orang, hadir di tengah keramaian, melihat situasi baru, dan melepaskan diri sejenak dari rutinitas kerja yang menjemukan sudah menjadi bentuk hiburan tersendiri. Fenomena sosial ini menunjukkan bahwa ruang seni juga berfungsi sebagai tempat pelarian yang sehat dari stres perkotaan. "Maka dari itu, kenyamanan suasana sekitar sangat memengaruhi kedalaman proses apresiasi," ucap Agus mengakhiri penjelasannya.