HIMKI Siapkan Hub Pemasaran Global, Dongkrak Ekspor Mebel Indonesia
- Dewan Pimpinan Pusat HIMKI meluncurkan strategi baru berupa pembentukan hub pemasaran di sejumlah negara tujuan ekspor utama untuk memperluas akses pasar global.
- Hub pemasaran ini direncanakan hadir di wilayah strategis seperti Amerika, Eropa, Australia, hingga Timur Tengah agar promosi produk mebel Indonesia bisa berjalan sepanjang tahun.
- Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menekankan pentingnya kolaborasi antarpelaku usaha demi menghindari persaingan harga yang tidak sehat dan praktik tiru-meniru produk.
Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPP HIMKI) tengah menyiapkan strategi pemasaran baru melalui pembentukan hub pemasaran di sejumlah negara tujuan ekspor. Langkah taktis ini dinilai sangat penting untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk mebel serta kerajinan lokal di kancah global. Kehadiran jaringan ini diharapkan mampu memotong keterbatasan promosi konvensional yang selama ini dinilai kurang efektif.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengungkapkan bahwa skema pemasaran produk saat ini masih terlalu bertumpu pada ajang pameran tahunan yang durasinya sangat terbatas. Menurutnya, metode promosi yang hanya berlangsung beberapa hari dalam setahun belum mampu menjaring seluruh potensi pasar internasional secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan baru agar produk-produk kerajinan tanah air bisa terus terpajang dan dikenal di luar negeri.
"Kalau setahun hanya empat hari, pameran tidak cukup. Yang benar itu adalah sepanjang tahun kita berpameran. Karena itu, saya mengusulkan ke teman-teman di DPP agar membangun hub," ujar Abdul Sobur saat membuka agenda HIMKI Series 2026 di Burza Hotel Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). Ia menambahkan bahwa hub tersebut nantinya akan bertindak sebagai perwakilan resmi organisasi yang menyasar langsung jantung wilayah dari para pembeli potensial.
Rencana ekspansi jaringan representatif ini akan memprioritaskan beberapa wilayah strategis di dunia yang selama ini menjadi pasar utama furnitur Indonesia. Jaringan yang terintegrasi ini diproyeksikan menjadi pusat informasi dinamis bagi para importir. "Nama hub itu seperti representatif daripada HIMKI berada di tujuan pasar kita. Ada hub di Amerika, ada hub di Eropa, ada di Australia, nanti di Timur Tengah. Sehingga kita hadir di mereka sepanjang tahun," kata Sobur menjelaskan.
Selain urusan penetrasi pasar, Sobur juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas dan kolaborasi antarpelaku industri mebel di dalam negeri agar tidak terjadi perang harga yang merugikan. Ia berharap ekosistem industri ini bisa meniru kekompakan produsen luar negeri yang saling berbagi segmen pasar. "Kalau kita mau maju harus kolaborasi. Jangan kemudian saling tiru-meniru yang akhirnya menjatuhkan dengan harga yang saling menghantam. Seperti Cina, segitu ketatnya dia kolaborasi berbagi pasar," tuturnya.
Potensi industri mebel Indonesia sendiri tergolong sangat besar karena mampu menyerap jutaan tenaga kerja dari hulu hingga ke hilir di berbagai daerah. Saat ini ekosistem HIMKI telah sukses menciptakan sekitar dua juta lapangan kerja dari Sabang sampai Merauke melalui perpanjangan tangan 18 Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Dalam peta industri nasional tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta berhasil memosisikan diri sebagai salah satu motor penggerak utama yang menyokong pertumbuhan ekonomi sektor kerajinan.