Perpustakaan Jakarta Perpustakaan Jakarta
  • Internasional
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Bisnis
  • Entertainment
  • Hukum
  • Budaya
  • Lingkungan
  • Teknologi
  • Amerika Serikat
  • Donald Trump
  • Kolombia
  • Inggris
  • Iran
  • Bali
  • Yogyakarta
  • Selat Hormuz
  • Surabaya
  • Medan
Kategori
Internasional Nasional Ekonomi Olahraga Bisnis Entertainment Hukum Budaya Lingkungan Teknologi
Tag
Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Inggris Iran Bali Yogyakarta Selat Hormuz Surabaya Medan

Dilema Daur Ulang Baterai Mobil Listrik, Berharga tapi Malah Bikin Rugi

Daniel Ngantung • 15 Juli 2026, 11:12 • Bisnis
  • Proses daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) kini menghadapi masalah perhitungan ekonomi yang tidak sinkron antara produsen besar dan tempat pembuangan mobil.
  • Banyak tempat rongsokan mobil (salvage yard) justru harus membayar hingga ribuan dolar AS hanya untuk membuang dan mengirimkan baterai bekas ke pihak pendaur ulang.
  • Tren peralihan industri ke baterai LFP yang lebih murah membuat nilai ekonomis hasil daur ulang anjlok karena tidak mengandung nikel atau kobalt yang mahal.

Daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) saat ini tengah menghadapi masalah perhitungan matematika dan ekonomi yang cukup pelik di tingkat operasional bawah. Meskipun baterai-baterai tersebut penuh dengan kandungan mineral berharga seperti litium, kobalt, dan nikel, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pengolahannya justru kerap merugikan pihak tempat rongsokan mobil (salvage yard). Banyak dari pengusaha lokal ini yang terpaksa menahan stok baterai bekas atau bahkan harus membayar mahal agar pihak pendaur ulang mau mengambilnya.

Thomas Andrade, pemilik Everett Auto Parts di Massachusetts, menggambarkan bagaimana dirinya harus mengirimkan dua unit baterai hibrida Chevy Volt ke perusahaan daur ulang tanpa menerima uang sepeser pun. Kendati tidak mendapatkan untung, Andrade mengaku masih cukup beruntung karena sang pendaur ulang bersedia mengambil baterai tersebut secara gratis tanpa mengenakan biaya pengiriman bahan berbahaya. 'Hal yang baik dari proses ini adalah setidaknya mereka mau mengambil baterai-baterai ini tanpa mengenakan biaya sepeser pun kepada kami,' ujar Andrade saat ditemui di lapangan penampungannya.

Kondisi yang jauh lebih rumit dialami oleh Brian Bachand, CEO Westover Salvage Yard, yang hingga kini masih kebingungan untuk melepas satu unit baterai Tesla berukuran sebesar kasur. Bachand mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendapatkan penawaran dari pihak pendaur ulang, namun dia justru dituntut membayar sebesar 1.800 dolar AS atau sekitar Rp 29 juta untuk biaya penanganan limbah berbahaya. 'Ini adalah liabilitas besar bagi usaha kami. Tidak ada orang yang mau membayar saya untuk barang ini, malah saya yang harus membayar mahal agar baterai ini bisa disingkirkan dari sini,' tutur Bachand dengan nada frustrasi.

Ketimpangan ekonomi ini terjadi karena adanya perbedaan skala bisnis yang masif antara korporasi besar seperti General Motors (GM) dan tempat pembuangan mobil skala kecil. Perusahaan raksasa otomotif umumnya memiliki rantai logistik yang sangat efisien untuk mengirimkan sisa produksi baterai mereka dalam jumlah tonase besar, sehingga pengolahan daur ulang di level mereka tetap menghasilkan keuntungan bersih yang menjanjikan. Sebaliknya, bagi tempat rongsokan lokal, mengirimkan satu atau dua unit baterai bekas yang tergolong material berbahaya justru memakan ongkos logistik yang jauh lebih besar dibanding nilai intrinsik mineral di dalamnya.

Kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk seiring dengan tren industri global yang mulai beralih menggunakan baterai berbasis Litium Besi Fosfat (LFP) yang lebih murah dibanding baterai berbasis nikel atau kobalt. CEO Cirba Solutions, David Klanecky, menyebutkan bahwa daur ulang baterai LFP hampir tidak menyisakan ruang margin keuntungan karena material besinya tidak bernilai tinggi di pasar daur ulang. Untuk mengantisipasi bahaya penumpukan limbah baterai yang mudah terbakar ini, negara bagian Colorado di Amerika Serikat baru saja mengesahkan undang-undang baru yang mewajibkan produsen mobil untuk bertanggung jawab penuh atas penarikan dan daur ulang baterai bekas dari produk yang mereka jual.

Tags: Amerika Serikat Tesla General Motors Colorado Everett Auto Parts
Sumber: NPR

Artikel Lainnya

Bisnis Senjata Api AS Lesu, Induk Delta Hawk Sportsman Gun Pawn Bangkrut 15 Jul 2026, 03:16
DPR AS Loloskan RUU Waktu Musim Panas Abadi, Tuai Kritik Para Pakar Kesehatan 15 Jul 2026, 10:24
Harga BBM Dunia Naik Turun Tak Menentu, Begini Cara Atur Anggaran Belanja 15 Jul 2026, 11:15
Inflasi AS Melambat Signifikan di Juni 2026, Ancaman Konflik Iran Mengintai 15 Jul 2026, 06:12

Terbaru

Pengusaha SPBU Kolombia Galang Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Venezuela 15 Jul 2026, 16:10
Heboh Ko Young Wook Minta Stop Dihujat Usai Lontarkan Candaan Ingin Jadi Aktor Film Dewasa 15 Jul 2026, 15:34
ANI Sosialisasikan Tarif Tol Khusus di Autopistas del Cafe Kolombia 15 Jul 2026, 13:04
Todd Blanche Diprediksi Mulus Jadi Jaksa Agung AS, Didukung Kubu Republik 15 Jul 2026, 12:12
Dua Rekrutan Cerdas, Manchester United Resmi Angkut Youri Tielemans dan Andrey Santos 15 Jul 2026, 12:00
DPRD Subang Dorong Penguatan Kapasitas Fiskal Daerah dalam KUA-PPAS 2027 15 Jul 2026, 11:43
Geoff Hurst Bela Sikap Cuek Jude Bellingham Terhadap Kritik Thomas Tuchel 15 Jul 2026, 11:30

Kategori

Internasional 43 artikel
Nasional 40 artikel
Ekonomi 34 artikel
Olahraga 28 artikel
Bisnis 13 artikel
Entertainment 12 artikel
Hukum 11 artikel
Budaya 8 artikel
Lingkungan 5 artikel
Teknologi 4 artikel

Tag Populer

Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Inggris Iran Bali Yogyakarta Selat Hormuz Surabaya Medan
Perpustakaan Jakarta • Pusat Literasi dan Informasi Terpercaya
Privacy Policy • Cookie Policy • Legal Notice • Subscription Terms • Privacy Settings
2018 Perpustakaan Jakarta. All rights reserved.