Loading...

Saat Publikasi Ilmiah Jadi Ladang Bisnis

Ilustrasi dokumen publikasi ilmiah dan dunia pendidikan tinggi

Ilustrasi dokumen publikasi ilmiah dan dunia pendidikan tinggi

Share:

Dunia pendidikan tinggi kembali tercoreng dengan maraknya praktik publikasi ilmiah abal-abal dan jurnal predator yang dijadikan ladang bisnis. Alih-alih mengutamakan kualitas riset, sejumlah oknum memanfaatkan celah instan demi keuntungan finansial.

“Naskah penelitian bisa ditolak karena berbagai alasan seperti kurangnya kebaruan atau metodologi yang tidak sesuai.”

— Publikasi Ilmiah Abal-abal

Praktik tidak jujur kembali mencoreng wajah pendidikan tinggi di dalam negeri setelah berbagai kasus integritas akademik terungkap ke publik. Baru-baru ini, penangkapan sejumlah petinggi perguruan tinggi oleh KPK terkait jual-beli bangku mahasiswa baru memperlihatkan rapuhnya sistem integritas di lingkungan kampus.

KPK menduga praktik lancung serupa juga jamak terjadi di kampus-kampus lain di Indonesia. Masalah integritas ini tidak hanya berhenti pada penerimaan mahasiswa baru, melainkan telah merambah ke berbagai aspek penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi.

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang pernah beberapa kali tersandung kasus korupsi, mulai dari pematokkan pembayaran bangku hingga penyelewengan dana bantuan Program Indonesia Pintar bagi mahasiswa kurang mampu. Terbongkarnya berbagai kasus tersebut ibarat puncak gunung es dari krisis integritas akademik.

Lingkungan akademik yang seharusnya menjadi pusat pembangunan karakter dan ilmu pengetahuan justru dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk menumbuhkan ladang bisnis pribadi yang mencedera marwah dunia pendidikan.

Maraknya Jurnal Predator dan Konferensi Abal-abal

Salah satu bentuk praktik culas yang masih marak terjadi di dunia akademik melibatkan proses publikasi ilmiah yang menyimpang dari standar etika. Di perguruan tinggi, publikasi ilmiah merupakan rutinitas yang tidak terpisahkan dan menjadi jantung hidupnya dunia akademik.

Sayangnya, proses tridharma perguruan tinggi tersebut rawan dicemari oleh praktik publikasi abal-abal yang mengorbankan kualitas demi keuntungan materi. Tim Investigasi Harian Kompas sebelumnya telah merilis temuan adanya sejumlah konferensi abal-abal yang diselenggarakan hanya untuk meraup keuntungan finansial dari pesertanya.

Di lingkungan akademisi, penerbit abal-abal tersebut lazim dikenal sebagai penerbit predator yang mencari keuntungan dari akademisi. Mereka bersedia membayar biaya tinggi untuk memastikan naskahnya terbit dengan cepat tanpa melalui proses penyaringan yang ketat.

Lazimnya, naskah hasil penelitian harus melalui proses reviu yang teliti dan memakan waktu panjang sebelum akhirnya diterbitkan ke jurnal ilmiah. Hasil penilaian berbulan-bulan tersebut bahkan belum tentu menjamin naskah akan langsung diterima.

Celah Instan dan Tantangan Integritas Akademik

Tidak jarang ada akademisi yang berusaha mengakali celah seleksi ketat dengan memanfaatkan keberadaan jurnal predator demi kepentingannya sendiri. Dibanding harus menunggu proses panjang yang tidak pasti, mereka memilih membayar biaya tinggi agar penelitian langsung diterbitkan terlepas dari kualitas isinya.

Di internet, jasa publikasi predator seperti itu dapat dengan mudah ditemukan dan terang-terangan menawarkan garansi terbit di jurnal nasional terakreditasi hingga internasional. Padahal secara wajar, tidak ada penerbit jurnal yang seharusnya menjamin artikel penelitian pasti terbit karena berbagai ketentuan ilmiah.

Naskah penelitian dapat ditolak karena topik tidak sesuai dengan fokus jurnal, kurang memiliki kebaruan dibanding penelitian terdahulu, atau karena metodologi dan data yang tidak valid. Penolakan sejatinya adalah hal yang wajar dalam dunia akademik untuk menjaga standar mutu riset.

Kendati demikian, kesulitan dan panjangnya proses penelaahan tersebut justru dimanfaatkan oleh penerbit predator untuk memperluas ladang bisnis publikasi abal-abal. Kondisi ini menuntut adanya pengawasan dan penguatan integritas yang lebih ketat di setiap institusi pendidikan tinggi.

Leave a Comment