Tips Memilih Pesantren, Pentingnya Mengetahui Sanad Keilmuan Pengajar
- Pengasuh Pondok Pesantren Al Mubarok Dompu mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan memilih pondok pesantren untuk anak.
- Sanad keilmuan pengajar yang jelas dan tersambung hingga Nabi Muhammad SAW menjadi indikator utama dalam memilih lembaga pendidikan Islam.
- Masyarakat diminta waspada terhadap pihak yang memanfaatkan label pesantren demi kepentingan politik atau keuntungan pribadi.
Pondok Pesantren Al Mubarok yang terletak di Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terus meneguhkan komitmennya dalam mencetak generasi Qur'ani yang berakhlakul karimah. Lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama ini menempatkan adab sebagai fondasi utama. Hal itu dilakukan guna membentuk karakter santri yang tidak hanya cerdas, tetapi juga menghormati guru dan menjunjung nilai keislaman.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Mubarok, Ustadz Abdul Muis, mengingatkan para orang tua agar lebih selektif dalam memilih tempat pendidikan bagi anak-anak mereka. Ia menekankan pentingnya memeriksa kejelasan sanad keilmuan serta rekam jejak kepesantrenan dari para pengajar. Pengecekan ini dinilai krusial di tengah menjamurnya berbagai lembaga baru yang mengatasnamakan pondok pesantren.
"Zaman sekarang pondok pesantren memang banyak, tetapi sedikit yang sanad keilmuannya benar-benar jelas, yakni tersambung hingga kepada Baginda Nabi Muhammad SAW melalui para ulama. Ini yang harus menjadi perhatian utama," ujar Ustadz Abdul Muis saat memberikan pemaparan di Dompu, Kamis, 16 Juli 2026.
Di samping faktor eksternal lembaga, kesiapan mental dari calon santri juga menjadi poin penting yang tidak boleh diabaikan. Kehidupan di dalam asrama menuntut kemandirian yang tinggi serta kedisiplinan yang ketat. Menurutnya, para santri harus menyiapkan fisik, tenaga, dan pikiran secara matang agar bisa menyerap ilmu agama dengan optimal selama masa pembelajaran.
"Yang paling penting sebelum mondok adalah menyiapkan mental, tenaga, dan pikiran. Menuntut ilmu di pesantren membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan," katanya menambahkan. Kesiapan ini dinilai menjadi modal utama anak dalam menghadapi dinamika lingkungan pesantren.
Lebih lanjut, Abdul Muis juga mengimbau masyarakat luas untuk waspada terhadap modus operandi lembaga yang memanfaatkan label pesantren demi kepentingan non-pendidikan. Ia menyoroti fenomena sebagian oknum yang menyalahgunakan institusi keagamaan ini untuk urusan politik praktis maupun memperkaya diri sendiri. Oleh karena itu, kemegahan fisik bangunan ataupun iming-iming program gratis jangan sampai menjadi satu-satunya tolok ukur penentu.