Pramuka Pasaman Barat dan Lapas Talu Kerja Sama, Fokus Pembinaan Karakter Warga Binaan
- Kwarcab 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat dan Lapas Kelas III Talu resmi menandatangani perjanjian kerja sama program pembinaan karakter.
- Pendidikan kepramukaan ini bertujuan untuk menanamkan nilai disiplin, kepemimpinan, dan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
- Kolaborasi strategis ini diharapkan menjadi bekal positif bagi para warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat dan taat hukum.
Pendidikan kepramukaan kini merambah ke dalam lembaga pemasyarakatan sebagai media efektif untuk pembinaan karakter. Langkah inovatif ini diterapkan bagi para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Talu, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat. Melalui program berkelanjutan tersebut, para warga binaan akan ditempa untuk membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab sebagai bekal penting saat mereka bebas nanti.
Komitmen nyata ini diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kwartir Cabang (Kwarcab) 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat dan Lapas Kelas III Talu. Prosesi penandatanganan yang sakral ini berlangsung di Aula Lapas Kelas III Talu, Kecamatan Talamau. Agenda ini dihadiri langsung oleh jajaran pengurus Kwarcab serta sejumlah pemangku kepentingan terkait yang mendukung penuh program integrasi sosial ini.
Perjanjian tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Kwarcab 0317 Gerakan Pramuka Pasaman Barat, Risnawanto, bersama Kepala Lapas Kelas III Talu, Yongki Yulianto. Risnawanto menegaskan bahwa pembentukan karakter melalui kepramukaan di dalam lapas berfokus pada penyiapan mental warga binaan agar memiliki kepribadian yang jauh lebih baik. Menurutnya, nilai-nilai kepramukaan sangat aplikatif dalam membantu proses reintegrasi sosial mereka.
'Kami ingin memberikan pembinaan karakter melalui nilai-nilai kepramukaan agar saat kembali ke masyarakat, mereka memiliki kepribadian yang lebih baik dan mampu menjalani kehidupan secara mandiri,' ujar Risnawanto di lokasi acara. Ia menambahkan, kemandirian yang dimaksud bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga kecakapan mengendalikan emosi dan ketegasan dalam mengambil keputusan positif demi masa depan mereka dan keluarga.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Talu, Yongki Yulianto, menyambut hangat sinergi strategis ini demi memperkuat program pembinaan internal. Yongki menilai nilai-nilai kepramukaan seperti cinta tanah air, kerja sama, dan pantang menyerah sangat selaras dengan visi pemasyarakatan moderen. 'Pemasyarakatan bukan hanya tentang pengamanan, tetapi juga membina warga binaan agar kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang taat hukum, mandiri, produktif, dan memiliki karakter yang lebih baik,' pungkas Yongki.