Mendikdasmen Tegaskan Kepala Sekolah Jangan Cuma Kejar Capaian Akademik, Karakter Siswa Utama!
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa kepala sekolah wajib mengutamakan pendidikan karakter dan tidak hanya berfokus pada capaian nilai akademik siswa.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan empat pilar utama termasuk digitalisasi, pelatihan coding/AI, serta kewajiban bahasa Inggris kelas III SD pada 2027.
- Pemerintah meluncurkan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk mengikis problem moralitas seperti kekerasan di lingkungan sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memberikan teguran keras kepada para kepala sekolah agar tidak terjebak dalam rutinitas mengejar angka akademik semata. Menurutnya, dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada tantangan moral yang besar, sehingga penguatan karakter siswa menjadi hal yang mutlak. Penegasan ini disampaikan langsung di hadapan sekitar 250 kepala sekolah dasar negeri saat menghadiri Sarasehan Pendidikan di Aula Madilau ADT, Kantor Bupati Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Dalam forum bertema Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua Anak Indonesia itu, Abdul Mu'ti mengingatkan kembali amanat konstitusi bahwa setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan berkualitas. Ia menilai, kecerdasan intelektual tidak akan bermakna banyak jika tidak diimbangi dengan akhlak yang baik. "Tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan yang bermutu merupakan amanat konstitusi yang harus diwujudkan bersama," ujarnya menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen sekolah.
Guna merealisasikan visi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah merancang empat pilar utama, yaitu penguatan infrastruktur fisik, peningkatan kualitas SDM, pembangunan budaya sekolah, serta transformasi pembelajaran. Di sektor infrastruktur, pemerintah pusat berkomitmen menggelontorkan anggaran masif untuk revitalisasi gedung, ruang perpustakaan, UKS, hingga tempat ibadah di wilayah Kabupaten Sumbawa. "Kami ingin sekolah menjadi tempat yang nyaman untuk belajar. Lingkungan belajar yang baik akan mendukung peningkatan kualitas pendidikan," katanya menambahkan.
Tidak sekadar sarana fisik, pilar digitalisasi juga terus digenjot dengan penambahan alokasi perangkat teknologi modern seperti panel interaktif ke berbagai sekolah. Guru-guru di daerah pun akan dibekali beasiswa sarjana dan serangkaian pelatihan mutakhir mulai dari pembelajaran mendalam (deep learning), coding, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah ini sekaligus menjadi fondasi awal sebelum pemerintah secara resmi menerapkan mata pelajaran Bahasa Inggris secara wajib mulai kelas III SD pada tahun 2027 mendatang.
Abdul Mu'ti juga menyoroti maraknya kasus kekerasan dan penurunan kedisiplinan siswa yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini. Sebagai solusi konkret, kementerian meluncurkan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang mewajibkan siswa membiasakan diri bangun pagi, beribadah, dan disiplin. "Kecerdasan saja tidak cukup. Pendidikan harus melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki karakter kuat, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat," ucap politisi tersebut.
Sementara itu, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menyambut baik seluruh program strategis dan dukungan penuh dari pemerintah pusat di wilayahnya. Kendati demikian, ia berharap kementerian tetap memberikan atensi khusus mengingat luasnya wilayah geografis Sumbawa yang masih menyisakan banyak sekolah di daerah terpencil. "Kami berkomitmen mendukung seluruh kebijakan pemerintah pusat di bidang pendidikan. Namun, masih banyak sekolah yang membutuhkan revitalisasi karena kondisi geografis Kabupaten Sumbawa yang sangat luas," pungkas Syarafuddin.