Ketua HIMPSI Andik Matulessy Ingatkan Pentingnya Regulasi Diri Bermedsos
- Ketua Umum HIMPSI Andik Matulessy menyoroti fenomena kejar viral di media sosial yang sering disalahartikan sebagai simbol kesuksesan.
- Ketergantungan berlebih pada validasi digital seperti likes dan komentar dinilai memicu masalah psikologis serius seperti cemas hingga stres.
- Dukungan literasi digital dan literasi kesehatan mental menjadi kunci penting agar masyarakat bijak menyaring konsumsi informasi harian.
Maraknya konten viral di berbagai platform media sosial kini tidak sekadar mengubah peta persebaran informasi dan hiburan, melainkan juga mulai mengikis kesehatan mental penggunanya. Fenomena kejar tayang demi viral ini kerap menjebak masyarakat dalam pusaran budaya mencari validasi sosial yang semu di ruang digital. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, publik diingatkan untuk segera membangun benteng pertahanan diri yang kokoh lewat kemampuan regulasi diri.
Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) sekaligus Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Andik Matulessy memaparkan bahwa fenomena konten viral saat ini sering kali dipersepsikan secara keliru sebagai indikator kesuksesan hidup. Obsesi untuk mendapat pengakuan instan ini mendorong banyak orang mengukur harga diri mereka dari angka-angka digital. 'Viral sering diposisikan sebagai sebuah kesuksesan. Pada dasarnya manusia ingin diterima dan diakui. Media sosial mewujudkan itu dengan cepat melalui jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar. Ketika validasi sosial dijadikan ukuran utama harga diri, di situlah persoalan psikologis dapat muncul,' ujar Andik dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya.
Dampak psikologis ini disinyalir akan berlipat ganda manakala konten yang diproduksi justru menuai respons negatif, hujatan, hingga perundungan dari warganet. Bergantung sepenuhnya pada penilaian orang asing di jagat maya berisiko tinggi memicu gangguan kecemasan akut, gelisah, hingga depresi. 'Komentar-komentar yang pedas, hujatan, dan kecaman bisa memberikan dampak yang luar biasa terhadap kondisi psikologis seseorang. Media sosial mempercepat munculnya emosi, sehingga kita harus memiliki regulasi diri agar tidak mudah terhanyut,' tutur Andik menjelaskan bahaya laten di balik layar gawai.
Kendati menyimpan potensi bahaya, Andik menggarisbawahi bahwa teknologi digital dan media sosial sejatinya adalah produk peradaban yang membawa segudang manfaat bila digunakan secara proporsional. Kunci utamanya terletak pada kontrol diri individu dalam memilih dan memilah konten apa saja yang layak dikonsumsi setiap harinya. 'Media sosial bukan sesuatu yang harus dijauhi. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengajarkan diri sendiri untuk lebih bijak, lebih hati-hati memilih tayangan dan informasi, serta tidak mudah terbawa arus pemberitaan yang begitu masif di media sosial,' ucapnya menekankan pentingnya kedewasaan digital.
Langkah preventif ini tentu membutuhkan sokongan kuat berupa peningkatan literasi digital dan pemahaman kesehatan mental sejak dini. Terlebih, data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet di tanah air telah menembus angka 79,5 persen atau setara dengan 221,5 juta pengguna aktif. Dengan rata-rata durasi penggunaan media sosial warga Indonesia yang mencapai lebih dari 3 jam sehari, edukasi berkala mengenai batasan sehat di dunia maya menjadi agenda krusial yang tidak bisa ditawar lagi demi menyelamatkan generasi masa depan dari krisis kesehatan mental.