Jeritan Guru di Surabaya, Etika Siswa Makin Anjlok Akibat Kecanduan HP dan Pengawasan Kendor
- Para tenaga pendidik di Surabaya menyoroti kemerosotan etika, ketaatan belajar, dan rasa hormat siswa terhadap orang tua maupun guru.
- Penggunaan telepon genggam secara intensif serta kendornya pengawasan dari lingkungan keluarga dinilai menjadi pemicu utama fenomena ini.
- Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat mendesak diperkuat melalui momen MPLS dan LDKS untuk membendung krisis karakter peserta didik.
Dunia pendidikan di Kota Surabaya tengah menghadapi tantangan serius terkait penurunan etika dan kedisiplinan para peserta didik. Kelancaran proses belajar mengajar di ruang kelas yang seharunya ditopang oleh rasa hormat dan motivasi tinggi, kini diuji oleh maraknya pergeseran perilaku siswa. Sejumlah tenaga pendidik menilai bahwa penurunan ketaatan belajar dan norma sopan santun telah berada pada taraf yang mengkhawatirkan.
Guru senior sekaligus Penasihat MI Sunan Giri Surabaya, H. Abdul Hadi, mengungkapkan bahwa minimnya kepatuhan siswa terhadap kegiatan akademis dipicu oleh kendornya pengawasan di ranah domestik. Porsi waktu anak-anak untuk bermain kini jauh melebihi porsi untuk belajar mandiri di rumah. "Lingkungan rumah, lingkungan bermain dan pengawasan orang tua kendor. Ini semua yang menjadikan siswa kurang taat terhadap pelajaran. Porsi bermain lebih banyak ketimbang porsi belajar," tegas Abdul Hadi.
Lebih lanjut, Abdul Hadi menyayangkan bahwa kehadiran lembaga pendidikan keagamaan di pemukiman warga belum mampu menahan laju penurunan moral anak-anak secara signifikan. Nilai-nilai dasar seperti menghormati orang tua dan menghargai sosok guru perlahan meluntur tergerus arus pergaulan luar. "Pengaruh lingkungan juga berpengaruh akan ketaatan siswa. Padahal TPA banyak di kampung-kampung. Kenapa kepatuhan menurun? Yang menyedihkan kepatuhan pada faktor-faktor pendidikan. Kurang belajar, kurang hormat pada guru, kurang hormat pada orang tua," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Guru Agama Islam SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya, Drs. Muhammad Ghufron, menunjuk gawai atau telepon genggam sebagai biang kerok utama yang mengikis sopan santun anak muda. Penggunaan ponsel cerdas tanpa batasan ketat telah mendistraksi fokus belajar sekaligus merusak tata krama berinteraksi. "Memang sekarang masalah etika menurun. Yang muda kurang menghormati yang tua. Sopan santun terabaikan. Ini disebabkan banyak bermain HP," ungkap Ghufron yang juga aktif sebagai Takmir Masjid An Nur Medokan Ayu.
Guna mengatasi krisis moral di kalangan generasi muda ini, para pendidik menyuarakan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Momen strategis seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) harus dimaksimalkan untuk menanamkan kembali fondasi karakter. Tanpa adanya pembinaan disiplin dan integritas yang konsisten, keberhasilan akademik siswa dinilai tak akan membawa dampak positif yang bertahan lama.