Fenomena Tren Kamera Jadul, Gen Z dan Milenial Ramai-Ramai Tinggalkan Kamera Ponsel Canggih
- Penjualan kamera digital retro atau digicam melonjak tajam karena didorong minat besar dari generasi Z dan milenial.
- Banyak anak muda memilih kamera saku lama karena menyukai estetika foto yang sedikit kabur, bernuansa hangat, dan terkesan lebih alami dibanding kamera ponsel.
- Penggunaan kamera fisik tanpa koneksi internet ini menjadi bentuk aksi perlawanan untuk melepaskan diri dari paparan notifikasi smartphone.
Kamera digital jadul rilisan era 2000-an kini kembali merajai arena pesta, konser musik, festival, hingga kumpul keluarga. Fenomena kembalinya kamera saku ini awalnya berawal dari langkah perusahaan bernama Camp Snap yang merilis kamera tanpa layar untuk anak-anak di perkemahan musim panas. Namun, tanpa diduga, produk ini justru diserbu oleh kalangan dewasa muda yang mendambakan estetika fotografi retro ala era 1990-an.
Presiden Camp Snap Trevor George mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan dari generasi Z dan milenial terjadi begitu mendadak dan di luar perkiraan awal. Tren ini tidak hanya dialami oleh Camp Snap yang penjualannya melonjak lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, tetapi juga dirasakan oleh produsen raksasa. Perusahaan kamera Canon melaporkan bahwa penjualan lini PowerShot milik mereka melonjak hampir tujuh kali lipat dalam periode 2022 hingga 2025.
Anak-anak muda mengaku jenuh dengan hasil foto ponsel pintar yang dinilai terlalu tajam dan terkesan tidak alami. Hasil jepretan kamera saku digital tua yang identik dengan bintik grain, sedikit buram, pencahayaan kilat menyengat, serta cap tanggal berwarna oranye justru dianggap memiliki estetika yang lebih autentik. "Jika saya ingin mengambil foto makanan, saya mungkin memakai ponsel. Namun jika sedang keluar bersama teman atau di pesta, saya menggunakan kamera untuk mendapatkan nuansa yang lebih hangat," ujar seorang remaja berusia 16 tahun, Jaden Williams.
Selain faktor estetika yang merajai platform TikTok, penggunaan kamera saku jadul ini juga menjadi bagian dari gerakan lepas dari ketergantungan ponsel pintar atau de-phoning. Seorang fotografer pernikahan, Christina Berkett, memilih membawa kamera saku agar tidak terus-menerus terdistraksi oleh notifikasi email saat mengambil gambar. "Anda memasukkannya ke dalam tas, tidak memikirkannya, dan di akhir malam Anda bisa melihat semua foto untuk mengenang kembali momen tersebut," kata Berkett.
Tren pemulihan teknologi analog ini juga tercatat di platform e-commerce seperti eBay yang mengalami lonjakan pencarian perangkat lama seperti iPod, pemutar CD, dan Walkman. Bahkan di acara pernikahan modern, banyak pasangan yang kini membayar ekstra agar dokumentasi video mereka direkam menggunakan camcorder jadul demi mendapatkan nuansa video rumahan. Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah gempuran teknologi modern dan kecerdasan buatan, keinginan untuk merasakan momen nyata secara analog justru makin tinggi.