Jangan Panik, Lakukan Trik Sederhana Ini Jika Gigi Copot Akibat Benturan Supaya Bisa Dipasang Lagi
- Kondisi gigi copot utuh dari soketnya akibat benturan dikenal sebagai trauma avulsi dan masih memiliki peluang besar untuk diselamatkan.
- Masyarakat disarankan untuk memegang bagian mahkota gigi dan merendamnya di dalam susu murni atau cairan saline sebelum dibawa ke dokter.
- Dokter gigi dapat melakukan tindakan replantasi untuk mengembalikan posisi gigi semula asalkan penanganan awal di rumah dilakukan secara tepat.
Insiden kecelakaan atau benturan keras di area wajah sering kali menyebabkan gigi terlepas secara tiba-tiba. Banyak masyarakat langsung panik dan menganggap gigi yang tanggal tersebut sudah mati dan tidak bisa diselamatkan lagi. Padahal, dunia medis mengonfirmasi bahwa gigi asli yang copot akibat trauma benturan ternyata masih memiliki peluang besar untuk dipertahankan dan dipasang kembali seperti sedia kala.
Dalam program Ngobrolin Kesehatan di RRI Pro 2 Padang, drg. Farhan Wiranda menjelaskan bahwa kondisi terlepasnya gigi secara utuh dari tempatnya ini disebut sebagai avulsi gigi. Fenomena cedera ini kerap menimpa anak-anak maupun orang dewasa akibat terjatuh, benturan olahraga, hingga kecelakaan lalu lintas. Penanganan medis yang cepat dan tepat pada menit-menit awal setelah kejadian menjadi faktor penentu keberhasilan penyelamatan gigi tersebut.
Jika mengalami atau melihat kejadian ini, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah segera mencari gigi yang terlepas tersebut. Namun, masyarakat diingatkan untuk sangat berhati-hati saat mengevakuasinya. "Ambil gigi dengan memegang bagian mahkotanya, jangan sekali-kali menyentuh bagian akarnya," ujar drg. Farhan. Hal ini sangat krusial karena menyentuh akar gigi dapat merusak jaringan halus periodontal yang sangat sensitif.
Setelah berhasil dievakuasi, gigi tersebut tidak boleh dibiarkan kering atau dibungkus dengan tisu. Drg. Farhan menyarankan agar gigi segera direndam di dalam media penyimpanan yang tepat seperti susu murni cair, susu UHT, cairan saline (infus), atau bahkan air liur dari pemilik gigi itu sendiri. Media basah ini berfungsi menjaga sel-sel di akar gigi tetap hidup selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Sesampainya di klinik atau rumah sakit, dokter gigi dapat segera mengupayakan tindakan medis darurat berupa replantasi. Metode ini merupakan proses penanaman kembali gigi asli ke dalam soketnya, yang kemudian akan distabilkan menggunakan alat khusus agar kokoh kembali. "Melalui prosedur replantasi dan perawatan saluran akar lanjutan, gigi asli pasien diharapkan dapat kembali berfungsi normal tanpa perlu gigi palsu," katanya menambahkan.
Selain kasus avulsi, drg. Farhan juga memperingatkan adanya risiko cedera lain pada anak-anak berupa apikal penetrasi, yaitu kondisi di mana gigi justru amblas terdorong masuk ke dalam gusi. Kondisi tersembunyi ini sangat berbahaya karena berpotensi merusak benih gigi permanen yang sedang tumbuh di bawahnya. Oleh sebab itu, edukasi mengenai pertolongan pertama pada trauma gigi ini diharapkan membuat masyarakat lebih waspada dan tidak lagi meremehkan cedera mulut sekecil apa pun.