Gawat, Ribuan Siswa di Bali Terlantar Belum Dapat Sekolah padahal MPLS Sudah Selesai
- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jenjang SMA/SMK di Bali resmi berakhir, namun 1.480 calon siswa masih terlantar belum mendapatkan sekolah.
- Disdikpora Provinsi Bali mencatat awalnya ada 2.567 anak yang tidak lolos seleksi reguler dan baru 1.087 anak yang berhasil didistribusikan ke sekolah lain.
- Daya tampung SMA negeri di Bali baru terisi 70,87 persen, dengan Kabupaten Tabanan mencatatkan angka keterisian paling minim yaitu hanya 49,72 persen.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk jenjang SMA dan SMK di Bali resmi ditutup setelah berlangsung selama sepekan. Namun, penutupan ini menyisakan nestapa bagi ribuan orang tua murid karena carut-marut proses penerimaan siswa baru belum juga rampung. Hingga kini, sebanyak 1.480 calon peserta didik dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 masih terombang-ambing tanpa kepastian sekolah.
Berdasarkan data komprehensif dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, awalnya terdapat 2.567 calon siswa yang dinyatakan gugur dalam seleksi reguler. Dari total tersebut, pihak dinas baru berhasil mengalokasikan sekitar 1.087 anak ke sejumlah sekolah yang kuota bangkunya belum terpenuhi. Langkah darurat ini terus digenjot agar tidak ada anak usia sekolah yang putus di tengah jalan.
Kepala UPTD Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BP Tekdik) Disdikpora Provinsi Bali, I Komang Agus Kariasa, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa proses distribusi siswa di lapangan masih diupayakan secara intensif. "Masih ada siswa tercecer, baru tersalurkan untuk SMA tahap pertama 731 dan SMK tahap pertama 356," ungkapnya saat memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan penyaluran tersebut.
Jika membedah data lebih rinci, dari 1.151 calon siswa SMA yang sempat tercecer pada awalnya, baru 731 anak yang berhasil mendapatkan kepastian sekolah pada gelombang pertama. Kondisi lebih memprihatinkan terlihat pada jenjang SMK, di mana baru 356 siswa yang berhasil ditempatkan dari total 1.416 anak yang sempat terlantar. Sisa 1.480 anak yang belum jelas nasibnya kini menjadi prioritas utama koordinasi antara Disdikpora dengan pihak sekolah negeri maupun swasta.
Di sisi lain, anomali justru terjadi pada angka keterisian bangku sekolah negeri karena daya tampung SMA negeri di seluruh Bali ternyata baru terisi rata-rata 70,87 persen. Dari total kapasitas kuota yang mencapai 30.314 kursi, jumlah siswa yang lolos seleksi baru menyentuh angka 21.483 orang. Kota Denpasar memimpin tingkat keterisian tertinggi sebesar 87,03 persen, sedangkan Kabupaten Tabanan mencatatkan angka keterisian paling minim yang hanya menyentuh 49,72 persen.