Gawat, Angka Stunting Samarinda Meroket, Program Cilukba Jadi Senjata Rahasia
- Prevalensi stunting di wilayah Puskesmas Temindung Samarinda mencapai 21,64 persen, melampaui rata-rata kota sebesar 16,77 persen.
- TSA Universitas Mulawarman dan Tanoto Foundation meluncurkan Program Cilukba untuk mengedukasi pola pengasuhan berbasis bukti.
- Program ini berhasil meningkatkan pemahaman orang tua secara signifikan serta membentuk Komunitas ASIK untuk keberlanjutan dampak.
Kasus stunting di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masih menjadi perhatian serius setelah wilayah kerja Puskesmas Temindung mencatat angka prevalensi hingga 21,64 persen. Guna mengatasi lonjakan tersebut, Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Mulawarman meluncurkan Program Cilukba sebagai strategi pengasuhan tepat. Program inovatif ini menyasar puluhan keluarga di Kelurahan Sungai Pinang Dalam demi menekan angka stunting sejak dini.
Program Cilukba yang merupakan kepanjangan dari Cerdas, Lucu, Kreatif Bersama Ayah dan Bunda ini dilaksanakan secara intensif sejak April hingga Juni 2026. Sebanyak 18 keluarga binaan dan 24 anak usia dini dilibatkan langsung dalam serangkaian edukasi dan pendampingan terpadu. Ketua Pelaksana Program Cilukba, Dira Septiany Putri, menegaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk mendorong perubahan perilaku nyata pada orang tua. "Kami ingin menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat berdasarkan hasil asesmen lapangan," ungkap Dira.
Dalam pelaksanaannya, TSA Universitas Mulawarman menggandeng Rumah Anak SIGAP untuk memfasilitasi konsultasi tumbuh kembang anak secara gratis. Para orang tua diberikan layanan skrining guna mendeteksi capaian perkembangan anak sesuai dengan usia mereka masing-masing. Di sisi lain, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas stimulasi motorik dan sensorik seperti melukis dengan bubble wrap hingga bermain puzzle ekspresi.
Tak hanya stimulasi fisik, program ini juga membekali orang tua dengan Kelas Edukasi yang menghadirkan dokter spesialis anak, dr. Ahmad Wisnu Waradhana. Dokter Ahmad menekankan pentingnya interaksi hangat antara orang tua dan anak selain pemenuhan nutrisi yang seimbang. "Kebutuhan anak bukan hanya makanan bergizi, melainkan keterlibatan ayah dan ibu secara bersama-sama merupakan fondasi penting untuk perkembangan otak," jelas Ahmad.
Dampak positif program ini langsung terlihat dari lonjakan drastis nilai post-test para peserta yang memahami pola pengasuhan berbasis bukti. Salah satu orang tua binaan, Siti Fatimah, mengaku mendapatkan banyak perspektif baru mengenai pentingnya kerja sama antara suami dan istri dalam mengasuh anak. "Saya semakin memahami bahwa pengasuhan anak memerlukan kerja sama antara ayah dan ibu agar memberikan dukungan optimal," pungkas Siti.