Timur Tengah Membara, AS Guyur Arab Saudi Senjata Senilai Rp 32 Triliun demi Hadapi Houthi
- Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan senjata ke Arab Saudi senilai hampir USD 2 miliar atau setara Rp 32 triliun untuk memperkuat pertahanan udara.
- Paket senjata tersebut mencakup 20.000 sistem senjata presisi canggih guna mengantisipasi ancaman keamanan regional yang kian memanas.
- Pemimpin Houthi di Yaman mengancam akan menargetkan fasilitas minyak dan objek vital Arab Saudi jika Riyadh terlibat dalam agresi militer.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi menyetujui penjualan paket senjata militer bernilai fantastis kepada Arab Saudi demi memperkuat sistem pertahanan udara kerajaan tersebut. Penjualan militer luar negeri ini diperkirakan mencapai hampir USD 2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun. Langkah strategis Washington ini diambil di tengah eskalasi konflik yang kian membara di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa kesepakatan militer ini dirancang untuk mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional negaranya. Arab Saudi dinilai sebagai sekutu non-NATO utama yang menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di wilayah Teluk. Pihak Pentagon menegaskan bahwa pasokan senjata ini tidak akan mengurangi tingkat kesiapan pertahanan militer dalam negeri AS sendiri.
Dalam rilis resminya, kontraktor utama yang ditunjuk untuk menangani pengadaan senjata ini adalah perusahaan pertahanan raksasa asal Inggris, BAE Systems. Salah satu alutsista mutakhir yang dibeli oleh Arab Saudi adalah sekitar 20.000 unit Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS) beserta hulu ledaknya. Sistem persenjataan ini dikenal sangat efisien karena mampu menghancurkan target secara presisi sekaligus meminimalkan kerusakan kolateral di medan tempur.
Keputusan AS ini langsung memicu reaksi keras dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran. Pemimpin kelompok Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, melayangkan ancaman terbuka yang menyatakan seluruh fasilitas minyak dan infrastruktur vital milik Arab Saudi akan menjadi target empuk rudal serta drone mereka. Ancaman tersebut akan direalisasikan jika Riyadh memutuskan terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai agresi menyeluruh terhadap Yaman.
Ketegangan di jalur perdagangan strategis Timur Tengah saat ini memang terus merangkak naik setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Blokade angkatan laut yang diterapkan oleh AS memicu respons militer yang kian agresif dari berbagai milisi regional. Melalui pasokan senjata baru ini, militer Arab Saudi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan deteksi dan penangkalan terhadap potensi serangan udara demi menjaga kedaulatan wilayahnya.