Trump Desak ICE Tetap Gunakan Razia Kendaraan Setelah Insiden Penembakan Maut
- Presiden AS Donald Trump mendesak ICE untuk terus menggunakan metode razia kendaraan (traffic stops) sebagai alat penegakan hukum yang efektif.
- Desakan ini muncul setelah Kepala Perbatasan Tom Homan mengumumkan penghentian sementara razia kendaraan menyusul dua insiden penembakan fatal.
- Setidaknya 10 orang tewas dalam operasi imigrasi federal sejak Trump meluncurkan kampanye deportasi massal pada Januari 2025.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mendesak badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) untuk tetap menggunakan metode razia kendaraan dalam operasi mereka. Melalui unggahan di media sosialnya, Trump memuji para petugas ICE yang dinilai telah melakukan pekerjaan luar biasa. Ia menegaskan bahwa razia di jalan raya tetap menjadi salah satu alat paling efektif dalam menjalankan kampanye deportasi massal yang sedang digalakkannya.
"Kita harus kuat, tangguh, dan cerdas, dan kita TIDAK BOLEH melepaskan salah satu alat Pemberantasan Kejahatan I.C.E. yang paling penting dan efektif, RAZIA KENDARAAN!" tulis Trump dalam unggahannya. Ia juga menambahkan bahwa jika taktik tersebut dihentikan, maka aparat sama saja dengan menyerah pada kendali kriminal. Kendati demikian, Trump tetap meminta para petugas untuk bertindak bijaksana, adil, dan cerdas saat kembali menjalankan tugas penting tersebut.
Pernyataan keras Trump ini muncul hanya sehari setelah Kepala Urusan Perbatasan AS, Tom Homan, mengumumkan penangguhan sementara terhadap sebagian besar kepolisian lalu lintas oleh ICE. Langkah penangguhan ini diambil demi melakukan peninjauan menyeluruh setelah terjadinya dua insiden penembakan fatal dalam kurun waktu satu minggu. "Ini bukan perubahan kebijakan. Ini adalah jeda sementara untuk memastikan agen ICE aman dan melakukan hal yang benar," ujar Homan dalam wawancaranya bersama Fox News.
Evaluasi internal ini dipicu oleh penembakan mematikan terhadap seorang warga negara Kolombia berusia 25 tahun, Johan Sebastian Duran Guerrero, dalam operasi ICE di Biddeford, Maine. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) awalnya menyatakan bahwa petugas melepaskan tembakan karena korban mencoba menabrakkan kendaraannya. Namun, DHS kemudian mengubah pernyataannya dan hanya menyebutkan bahwa korban mencoba melarikan diri sehingga petugas terpaksa menembak demi keselamatan publik. Kasus ini kini tengah diselidiki oleh FBI karena petugas yang terlibat tidak mengenakan kamera badan (body camera).
Enam hari sebelum insiden di Maine, peristiwa serupa terjadi di Houston, Texas, di mana seorang agen ICE menembak mati warga negara Meksiko berusia 52 tahun bernama Lorenzo Salgado Araujo. Pihak DHS mengklaim Salgado menggunakan kendaraannya sebagai senjata, tetapi kesaksian dari warga sekitar dan pihak keluarga membantah kronologi versi pemerintah tersebut. Berdasarkan data, setidaknya 10 orang telah tewas dalam operasi penegakan imigrasi federal sejak Trump kembali menjabat dan memulai deportasi massal pada Januari 2025.