Timur Tengah Mencekam, Serangan Rudal Iran Menggila Kuatkan Sinyal Perang Besar Dunia
- Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan baru ke infrastruktur militer Iran setelah dua tentara AS tewas dalam serangan di Yordania.
- Sistem pertahanan udara Bahrain dan Kuwait dilaporkan sibuk mencegat rentetan serangan rudal serta drone yang dikirim oleh militer Iran.
- Analis menilai eskalasi balas-membalas ini berpotensi besar memicu perang terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan gelombang serangan udara masif ke infrastruktur militer Iran. Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk balasan kilat atas tewasnya dua personel militer AS akibat serangan pesawat nirawak di Yordania. Presiden AS Donald Trump angkat bicara mengenai insiden ini dan menyebut kematian tentaranya sebagai momen yang sangat menyedihkan.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah berhasil menghantam pangkalan pengawasan pantai, fasilitas pertahanan udara, serta gudang penyimpanan rudal dan drone milik Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran. Ledakan besar dilaporkan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas hingga Pulau Qeshm. CENTCOM menegaskan tindakan ini diperlukan untuk melemahkan kapabilitas militer Iran yang terus mengancam stabilitas kawasan.
Situasi kian mencekam setelah Iran membalas dengan menghujani negara-negara tetangga yang menampung fasilitas militer AS menggunakan rudal dan drone. Angkatan pertahanan Bahrain dan Kuwait melaporkan sistem udara mereka bekerja keras mencegat serangan beruntun tersebut sepanjang Minggu pagi. "Pasukan dan seluruh unit persenjataan kami kini berada dalam tingkat kesiagaan tertinggi untuk menghalau agresi brutal ini," ungkap Komando Umum Angkatan Pertahanan Bahrain.
Dampak dari meluasnya konflik ini juga memicu kepanikan di Yordania, menyusul ancaman keamanan kredibel di Kota Pelabuhan Aqaba yang sempat membuat Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan evakuasi. Meskipun demikian, pemerintah Yordania membantah telah melakukan pengosongan bandara dan pelabuhan. Juru bicara pemerintah Yordania, Dr. Mohammad Al-Momani, menyatakan bahwa situasi di Aqaba masih terkendali dan seluruh fasilitas transportasi tetap beroperasi normal.
Para pengamat internasional mengkhawatirkan roda peperangan ini akan tergelincir menjadi perang regional yang tidak terkendali. Jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz kini dilaporkan mulai lumpuh total akibat ancaman serangan terhadap kapal-kapal dagang. Wakil Presiden AS JD Vance sempat mengisyaratkan bahwa kekuatan militer saja tidak akan cukup untuk meredam kekuasaan Iran di selat strategis tersebut tanpa adanya jalur diplomasi yang kuat.