AS Blokade Laut Iran dan Gempur Selat Hormuz, Teheran Ancam Stop Ekspor Energi
- Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran dan meluncurkan gelombang serangan udara agresif di sepanjang pesisir selatan.
- Garda Revolusi Iran mengancam akan menghentikan seluruh ekspor energi di Timur Tengah jika blokade tersebut terus berlanjut.
- Konflik yang kembali memanas ini merusak kesepakatan damai sementara dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Amerika Serikat (AS) kembali menerapkan blokade laut berskala penuh terhadap Iran dan mengintensifkan serangan udara ke sejumlah wilayah strategis pada Rabu waktu setempat. Langkah agresif ini diambil Washington sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Otoritas Iran melaporkan serangan udara militer AS telah menghantam barak militer, menewaskan sedikitnya tujuh tentara, serta melukai ratusan orang lainnya.
Rentetan serangan balasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Timur Tengah ini dinilai telah menghancurkan kesepakatan damai sementara yang baru berjalan satu bulan. Blokade ini sebelumnya sempat dicabut setelah adanya perjanjian gencatan senjata 60 hari untuk merundingkan program nuklir Iran. Namun, negosiasi tersebut menemui jalan buntu seiring meningkatnya intensitas pertempuran di jalur perairan yang menjadi urat nadi pasokan energi global tersebut.
Garda Revolusi Iran bereaksi keras terhadap blokade teranyar AS dan mengancam akan melumpuhkan total jalur distribusi energi di kawasan. "Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan dinikmati oleh semua orang atau tidak sama sekali untuk siapa pun," tegas perwakilan Garda Revolusi Iran dalam pernyataan resminya. Ancaman tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Teheran siap memutus pasokan energi internasional jika pergerakan ekonomi mereka terus ditekan oleh militer AS.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa tekanan militer ini justru akan memaksa Iran untuk tunduk dan menyetujui perjanjian damai yang baru. "Mereka tidak menyukai apa yang kami lakukan, dan mereka sebenarnya ingin menyelesaikannya. Kita akan lihat apakah kita akan berdamai dengan mereka atau justru menyelesaikannya secara total," ujar Trump saat berpidato di US Army War College di Pennsylvania.
Situasi di lapangan dilaporkan kian mencekam setelah Angkatan Laut AS melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Curacao bernama Belma yang kedapatan berlayar menuju Pulau Kharg. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan jet tempur mereka menembakkan rudal Hellfire tepat ke cerobong asap kapal tersebut setelah kapten kapal mengabaikan beberapa kali peringatan untuk berputar arah. Selain itu, serangan rudal AS juga dilaporkan menyasar pangkalan Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchestan.