Geger, Suriah Gagalkan Penyelundupan Senjata Canggih Diduga Kuat Milik Hezbollah
- Otoritas bea cukai Suriah menyita pengiriman senjata canggih seperti rudal jarak jauh dan drone di perbatasan al-Tanf dengan Irak.
- Pemerintah baru Suriah menuduh senjata tersebut hendak diselundupkan ke kelompok Hezbollah di Lebanon, namun tuduhan ini langsung dibantah keras.
- Pengetatan perbatasan ini menandai kebijakan keras Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa pasca runtuhnya rezim Bashar al-Assad.
Otoritas keamanan Suriah dilaporkan berhasil menggagalkan upaya penyelundupan senjata canggih berukuran besar di wilayah perbatasan al-Tanf yang berbatasan langsung dengan Irak. Senjata-senjata mematikan tersebut, yang meliputi rudal jarak jauh, roket, hingga pesawat tanpa awak (drone), diduga kuat sengaja dikirimkan untuk kelompok milisi Hezbollah di Lebanon. Penangkapan dramatis ini menandai babak baru ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak.
Berdasarkan rilis resmi dari Otoritas Jenderal Pelabuhan dan Bea Cukai Suriah pada hari Kamis waktu setempat, barang bukti berbahaya tersebut disembunyikan secara rapi di dalam salah satu truk tangki minyak. Truk tangki pengangkut bahan bakar tersebut diketahui tengah melakukan perjalanan rutin menuju kota pelabuhan Baniyas. Namun, pemeriksaan ketat dan menyeluruh yang dilakukan oleh petugas bea cukai di pos lintas batas akhirnya berhasil membongkar siasat penyelundupan tersebut.
Badan intelijen dan Kementerian Dalam Negeri Suriah segera melakukan penyelidikan awal berdasarkan bukti-bukti kuat yang dikumpulkan di tempat kejadian perkara. "Berdasarkan bukti di lapangan, penyelidikan awal menunjukkan bahwa kiriman senjata ini memang sengaja ditransitkan melalui wilayah Suriah untuk dikirim ke milisi teroris Hezbollah di Lebanon," tulis kantor berita resmi Suriah, SANA, mengutip sumber kementerian terkait. Langkah tegas ini menegaskan komitmen pemerintah baru Suriah dalam menjaga kedaulatan negaranya dari aktivitas ilegal asing.
Menanggapi tuduhan serius tersebut, pihak kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung oleh Iran langsung mengeluarkan bantahan keras. Mereka menegaskan tidak memiliki aktivitas operasional atau pasokan logistik militer di wilayah Suriah pada saat ini. "Tuduhan tersebut hanyalah narasi fiktif yang sengaja dibuat-buat tanpa dasar fakta yang jelas, dengan tujuan utama untuk merusak reputasi dan memojokkan Hezbollah," sebut pernyataan resmi kelompok tersebut pada hari Kamis.
Penahanan pasokan senjata ini merefleksikan perubahan drastis peta politik regional setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada tahun 2024 silam. Di bawah kepemimpinan Presiden baru Suriah, Ahmed al-Sharaa, pengetatan jalur lintas batas gencar dilakukan untuk memutus rantai penyelundupan yang sebelumnya berjalan mulus di era Assad. Langkah penertiban perbatasan ini sekaligus menunjukkan posisi netral Suriah yang enggan terseret lebih dalam ke ranah konflik internal Lebanon dengan Israel.