Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami erupsi singkat di Selat Sunda. Banyak masyarakat yang keliru menyamakan gunung ini dengan Gunung Krakatau purba yang meletus dahsyat pada tahun 1883.
“Letusan selama 28 detik itu terjadi usai Badan Geologi Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa erupsi menerus telah berakhir.”
— Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau tengah menjadi sorotan setelah kembali erupsi pada Rabu (9/9/2026) pukul 00.47 WIB. Letusan tersebut sempat menarik perhatian publik menyusul aktivitas vulkanik sebelumnya yang dipantau ketat oleh pihak berwenang.
Letusan selama 28 detik itu terjadi usai Badan Geologi Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir pada 6 September 2026. Peristiwa ini kembali mengingatkan publik pada sejarah aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.
Banyak masyarakat yang mengira Gunung Anak Krakatau ini sama persis dengan Gunung Krakatau yang pernah meletus besar pada tahun 1883 silam. Kesalahpahaman ini kerap terjadi karena letak geografis kedua objek tersebut berada di kawasan yang sama.
Secara umum, kedua gunung tersebut terletak di perairan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi pembeda mendasar di antara kedua gunung api legendaris ini?
Perbedaan Istilah dan Sejarah Kemunculan
Dilansir dari sumber terpercaya, perbedaan utama antara Gunung Krakatau dan Anak Krakatau terletak pada penggunaan istilah serta riwayat pembentukannya. Gunung Krakatau merujuk pada kompleks gunung api di Selat Sunda yang meletus dahsyat pada tahun 1883.
Gunung tersebut terbentuk melalui aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda yang sebelumnya dikenal sebagai kompleks Gunung Krakatau Purba. Kompleks ini menyimpan sejarah letusan besar yang mengubah bentang alam nusantara.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau adalah kerucut gunung api baru yang tumbuh di dalam kaldera setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau terjadi. Gunung baru ini lahir dari aktivitas vulkanik di bawah laut pada tahun 1927.
Setelah proses aktivitas bawah laut tersebut, bagian puncaknya akhirnya muncul ke permukaan air laut pada tahun 1930 dan terus berkembang hingga saat ini menjadi objek penelitian penting.
Read Also
Gempa M 7,4 Guncang Kolombia, 111 Korban Jiwa, Tanggap Darurat Ditetapkan
Gempa bumi bermagnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia dan...
Indonesia dan Tujuh Negara Kecam Keras Rencana Israel Usir Warga Palestina dari Gaza
Indonesia bersama tujuh negara Arab dan mayoritas Muslim mengecam keras...
Penjelasan Arya Wedakarna Terkait Pengawalan Prajurit TNI di Thailand
Anggota DPD RI Arya Wedakarna memberikan klarifikasi terkait kehadirannya di...
Topan Dolphin Landa China Hingga Lumpuhkan Transportasi dan Rendam Shanghai
Topan Dolphin menerjang wilayah Shanghai dan Provinsi Zhejiang di China,...
Asal Usul Krakatau Purba dan Letusan Dahsyat
Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli berpendapat bahwa pada zaman purba terdapat sebuah gunung sangat besar. Gunung raksasa tersebut meletus hebat dan menyisakan kaldera atau kawah besar di tengah laut.
Gunung purba itu disebut sebagai Gunung Krakatau Purba yang menjadi cikal bakal dari seluruh sistem vulkanik di wilayah tersebut. Tinggi gunung purba ini diperkirakan mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut.
Lingkaran pantai dari gunung purba tersebut bahkan mencapai kisaran 11 kilometer, menunjukkan skala ukuran yang sangat masif sebelum akhirnya mengalami kehancuran akibat letusan.
Berdasarkan catatan sejarah dan kitab pedalangan Pustaka Raja Purwa, Gunung Krakatau Purba diperkirakan meletus dahsyat pada tahun 535 Masehi yang memicu perubahan besar lingkungan.