Krisis Ekonomi China, Sisi Gelap Ambisi Negara Teknik dan Malinvestasi Properti
- Pertumbuhan ekonomi masif China dalam 50 tahun terakhir kini membentur masalah baru yang biasa dihadapi oleh negara-negara maju.
- Konsep 'engineering state' atau negara teknik yang dianut pemerintah China memicu malinvestasi besar-besaran, terutama di sektor real estat.
- Kelesuan ekonomi dan minimnya lapangan kerja kerah putih memicu tingginya angka pengangguran pemuda yang kini memilih untuk keluar dari pasar kerja.
Pertumbuhan ekonomi China yang melesat bak roket selama 50 tahun terakhir telah berhasil mengubah negara tersebut menjadi salah satu kekuatan ekonomi terkaya di dunia. China sukses menjelma sebagai pabrik raksasa dunia berkat kombinasi ambisi pribadi masyarakatnya dan perencanaan pusat pemerintah yang sangat ketat. Berbagai infrastruktur megah mulai dari kereta cepat yang menghubungkan setiap kota, jembatan baru yang berkilau, hingga gedung pencakar langit dibangun secara masif. Bahkan, hampir setiap keluarga di China kini setidaknya memiliki satu atau dua apartemen dari hasil ledakan ekonomi tersebut.
Namun, kemakmuran yang diraih dengan sangat cepat ini kini membawa konsekuensi baru yang kerap dihadapi oleh negara-negara maju. China mulai terjebak dalam masalah pelik yang bersumber dari kelebihan pembangunan atau overbuilding di berbagai sektor. Paradoks ini dipicu oleh konsep yang disebut sebagai 'engineering state' atau negara teknik. Konsep tersebut merupakan sebuah pola pikir perencanaan terpusat di mana para pemimpin meyakini bahwa mereka dapat merekayasa jalan keluar dari setiap masalah ekonomi hanya dengan terus membangun infrastruktur fisik.
Pola pikir yang terlalu fokus pada pembangunan fisik ini pada akhirnya justru memicu terjadinya malinvestasi berskala besar. Sektor real estat yang dulunya menjadi motor utama kekayaan para konglomerat kini justru berada di ambang krisis yang mengkhawatirkan. Pada era keemasan awal tahun 2000-an, para pengembang properti swasta di China terbiasa hidup bergelimang kemewahan mulai dari jet pribadi hingga sup ikan seharga ribuan dolar. Kini, momentum kejayaan itu telah melambat secara drastis dan menyisakan tumpukan utang serta proyek-proyek mangkrak di berbagai wilayah China.
Dampak dari melambatnya roda perekonomian ini mulai memukul generasi muda di negara tirai bambu tersebut secara telak. Angka pengangguran usia muda melonjak drastis karena pasar kerja tidak mampu menyerap lulusan baru yang mencari pekerjaan kerah putih. Kesenjangan antara ekspektasi tinggi generasi muda terdidik dan realitas lapangan kerja yang tersedia menciptakan gelombang keputusasaan baru. Banyak dari mereka yang merasa frustrasi dengan sistem persaingan yang melelahkan namun tidak membuahkan hasil sepadan.
Fenomena sosial baru pun muncul di mana sebagian dari generasi muda ini memilih untuk menyerah dan keluar sepenuhnya dari dunia kerja. Mereka mengadopsi gerakan pasif sebagai protes terhadap tekanan ekonomi yang dinilai sudah tidak masuk akal lagi. 'Hari ini kita melihat bahaya dari kemakmuran dan keputusasaan di tengah kesuksesan saat China harus berhadapan dengan dampak overbuilding,' ungkap Robert Smith dalam laporan khususnya. Krisis multidimensi ini menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan rekayasa ekonomi terpusat yang dianut China kini memerlukan evaluasi yang mendalam.