Atasi Krisis Pekerja, Pabrik AS Terapkan Sistem Kerja Fleksibel Mirip Uber
- Krisis tenaga kerja pascapandemi memaksa sejumlah pabrik manufaktur di Amerika Serikat meninggalkan sistem kerja tradisional 40 jam seminggu.
- Perusahaan besar seperti Stanley Black & Decker dan Georgia-Pacific mulai merekrut pekerja paruh waktu dengan jadwal fleksibel melalui aplikasi digital.
- Meskipun harus mengorbankan tunjangan kesehatan dan menerima upah lebih rendah, banyak pekerja biru kini lebih mengutamakan kebebasan mengatur waktu luang.
Kebebasan untuk memilih jam kerja sendiri kini tidak lagi menjadi monopoli pekerja kantoran berkerah putih. Di wilayah Lafayette, negara bagian Georgia, Amerika Serikat, konsep fleksibilitas ini mulai merambah industri manufaktur yang selama ini dikenal kaku. Langkah berani ini diambil oleh sejumlah pengelola pabrik demi mengatasi krisis kelangkaan tenaga kerja pascapandemi yang sempat melumpuhkan lini produksi mereka.
Pabrik-pabrik besar termasuk Stanley Black & Decker dan Georgia-Pacific kini membuka pintu lebar-lebar bagi pekerja paruh waktu yang tidak mencari karier jangka panjang. Melalui platform digital pihak ketiga seperti MyWorkChoice, para pekerja dapat mendaftarkan diri untuk mengambil giliran kerja atau shift dengan durasi minimal empat jam saja. Kebijakan ini dianggap sebagai terobosan besar mengingat industri manufaktur secara historis sangat mendewakan konsistensi kehadiran fisik demi menjaga kualitas produk.
Sistem baru yang dijuluki sebagai 'Uber di dunia manufaktur' ini terbukti sangat diminati oleh masyarakat lokal di pedesaan barat laut Georgia. Direktur Hubungan Masyarakat pabrik setempat, Darcy Duvall, mengungkapkan bahwa angkatan kerja saat ini telah mengalami pergeseran paradigma jika dibandingkan dengan kondisi dua dekade lalu. 'Pekerja zaman sekarang tidak lagi datang, menetap, dan bekerja dengan jam kerja konvensional yang monoton secara terus-menerus,' ungkap Duvall.
Meskipun sistem fleksibel ini menawarkan kebebasan penuh, para pekerja harus rela menerima kompensasi yang jauh lebih rendah tanpa adanya tunjangan kesehatan standar. Namun, bagi sebagian besar pekerja, kompromi tersebut sepadan dengan waktu luang yang mereka dapatkan untuk mengurus keluarga atau menjalankan bisnis sampingan. Hal ini diakui pula oleh Doris Hamby, seorang pekerja veteran berusia 62 tahun yang memilih beralih ke sistem paruh waktu agar bisa merawat ibunya yang sedang sakit keras.
Pihak manajemen pabrik awalnya khawatir bahwa arus keluar-masuk pekerja yang terlalu dinamis akan merusak kestabilan lini perakitan mereka. Kendati demikian, hasil di lapangan justru menunjukkan hasil positif dengan bergabungnya sekitar 450 pekerja fleksibel setiap minggunya. Tony Gabbert, direktur operasional manufaktur di pabrik tersebut, sempat merasa ragu namun kini mengakui inovasi ini adalah solusi jitu untuk menjaga roda produksi tetap berputar tanpa membebani staf tetap.