Konflik Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel
- Harga minyak mentah acuan Brent melonjak melebihi USD 100 per barel seiring meluasnya konflik militer yang melibatkan Iran dan AS.
- Kelompok Houthi yang disokong Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di perairan Laut Merah.
- Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan hukuman militer berat kepada Iran jika serangan terhadap jalur pelayaran terus berlanjut.
Harga minyak mentah dunia melonjak menembus level USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei lalu akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran para pelaku pasar atas terganggunya pasokan minyak global setelah milisi Houthi asal Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal tanker di Laut Merah. Kondisi tersebut mengancam jalur distribusi vital energi global yang menghubungkan wilayah penghasil minyak utama ke pasar internasional.
Minyak mentah acuan Brent mencatatkan kenaikan lebih dari 6 persen hingga menyentuh angka USD 100,14 per barel sebelum mengalami koreksi tipis. Sementara itu, acuan minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), turut melonjak hampir 5 persen hingga mencapai USD 90,98 per barel. Sepanjang bulan ini saja, harga minyak Brent tercatat telah melambung sekitar USD 27 per barel atau merangkak naik lebih dari sepertiga dari harga sebelumnya.
Eskalasi kian memanas setelah kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker berbendera Arab Saudi, yakni Encelia dan Layla, di perairan Laut Merah. Jalur tersebut selama ini menjadi rute alternatif utama bagi Arab Saudi untuk mengalirkan sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak per hari guna menghindari Selat Hormuz. Dengan terancamnya rute Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, kekhawatiran akan krisis pasokan energi global kini berada pada titik tertinggi.
Menanggapi situasi yang semakin tidak terkendali, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran melalui unggahan di media sosial Truth Social. Trump menegaskan bahwa Washington akan menuntut pertanggungjawaban penuh dari Iran atas setiap aksi penyerangan yang dilancarkan oleh kelompok milisi proksinya di kawasan tersebut. "Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan memegang Iran bertanggung jawab dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran serta Houthi sendiri," tegas Trump.
Sementara itu, ketegangan diplomasi juga terus berlanjut dengan saling lempar ancaman antara pejabat tinggi kedua negara. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa doktrin politik luar negeri Trump saat ini menghadapi Iran adalah "kepala dibayar mata", merespons pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang sebelumnya mengusung prinsip pertahanan "mata dibayar mata". Saling balas serangan militer dan retorika keras ini kian memupuskan harapan akan hadirnya resolusi damai dalam waktu dekat.