Debat Panas Reformasi Agraria Kolombia, Konflik Mafia Tanah Versus Legalitas Sertifikat
- Program reformasi agraria di Kolombia memicu perseteruan sengit antara pemerintahan demisioner dengan tim transisi dari Presiden terpilih Abelardo de la Espriella.
- Direktur Badan Pertanahan Nasional Kolombia (ANT) Felipe Harman menegaskan komitmennya untuk merebut aset tanah dari cengkeraman mafia demi kesejahteraan petani.
- Mantan Menteri Pertanian Cecilia Lopez mengkritik keras pembagian lahan tersebut karena dinilai tidak dilengkapi dengan sertifikat kepemilikan formal yang sah secara hukum.
Program reformasi agraria di Kolombia kembali memicu perdebatan sengit dan benturan kepentingan yang melibatkan internal pemerintahan saat ini dengan tim transisi dari Presiden terpilih, Abelardo de la Espriella. Fokus polemik kali ini tertuju pada perjanjian kemitraan strategis antara Badan Pertanahan Nasional (ANT) dan Lembaga Pengelola Aset Khusus (SAE). Kerja sama ini menuai kritik tajam setelah munculnya sejumlah kecurigaan terkait mekanisme dan kejelasan status hukum atas lahan-lahan yang telah didistribusikan kepada para petani lokal.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Direktur ANT Felipe Harman tampil membela kebijakan institusinya dengan menegaskan bahwa seluruh langkah yang diambil sudah sesuai prosedur. Harman menjelaskan bahwa misi utama dari kerja sama dengan SAE adalah untuk menyita serta mengalihkan aset-aset yang terafiliasi dengan jaringan kriminal untuk kemudian dimanfaatkan dalam program reformasi agraria nasional. 'Jika ada satu tindakan di bawah kepemimpinan saya di Badan Pertanahan Nasional yang membuat saya sangat bangga, itu adalah merebut tanah dari tangan mafia dan menyerahkannya kepada para petani di negara ini,' ujar Harman dengan nada optimis.
Lebih lanjut, Harman membeberkan bahwa kesepakatan dengan SAE tersebut telah melalui proses peninjauan yang sangat ketat, baik dari aspek hukum maupun fiskal negara. Dirinya memaparkan bahwa dana jaminan khusus telah dialokasikan untuk memitigasi risiko apabila di kemudian hari muncul putusan pengadilan yang membatalkan status kepemilikan lahan yang telah dibagikan. Meski begitu, Harman juga melayangkan sindiran tajam kepada kubu oposisi dan pemerintahan baru yang akan datang. 'Hari ini, dengan sengaja menebar keraguan di tengah publik, ada upaya nyata dan langkah mundur untuk mengembalikan tanah-tanah tersebut ke tangan mafia,' tambahnya.
Di sisi lain, mantan Menteri Pertanian Kolombia Cecilia Lopez menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait keamanan hukum bagi para petani penerima manfaat lahan tersebut. Menurut Lopez, masalah paling mendasar yang diabaikan oleh ANT bukan sekadar urusan birokrasi kemitraan, melainkan absennya jaminan hak milik yang kuat bagi para petani di lapangan. 'Kekhawatiran terbesar saya adalah mereka membagikan tanah tanpa membekali para petani dengan dokumen pertahanan yang memadai. Mengapa mereka tidak langsung menyerahkan sertifikat kepemilikan resmi kepada mereka?' kritik Lopez dalam sebuah sesi wawancara radio lokal.
Lopez mendesak pemerintahan baru di bawah Abelardo de la Espriella untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap data riil reformasi agraria ini, terutama mengenai jumlah sertifikat yang benar-benar telah diterbitkan secara resmi. Ia memperingatkan bahwa membagikan lahan sitaan dari mafia tanpa kepastian hukum yang konkret justru menaruh para petani miskin dalam posisi yang sangat rentan terhadap konflik agraria baru di masa mendatang. Hingga kini, silang pendapat mengenai prioritas antara kecepatan redistribusi tanah versus pemenuhan legalitas hukum formal masih terus memanas di Kolombia.