Mutiara Pagi RRI Medan, Umat Muslim Diingatkan Jaga Lisan dari Perilaku Mencela
- Acara Mutiara Pagi Pro1 RRI Medan menekankan pentingnya menjaga lisan dan menjauhi kebiasaan mencela orang lain demi keharmonisan.
- Islam melarang umatnya mengolok-olok sesama, melainkan memerintahkan untuk saling menasihati dengan penuh hikmah dan kasih sayang.
- Perilaku membicarakan keburukan orang lain yang sesuai fakta disebut gibah, sedangkan menyebarkan informasi tidak benar dikategorikan fitnah.
Mencela dan merendahkan orang lain bukanlah cerminan dari akhlak seorang muslim yang baik. Menjaga lisan dengan bijak akan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat, sedangkan lisan yang gemar mencela justru dapat melukai hati serta merusak ikatan persaudaraan antar sesama manusia.
Hal tersebut disampaikan oleh narasumber Estifa dalam acara religi Mutiara Pagi yang disiarkan oleh Pro1 RRI Medan dengan tema "Tidak Suka Mencela". Dalam tausiyahnya, Estifa mengungkapkan bahwa setiap muslim hendaknya membiasakan diri untuk selalu berkata baik atau lebih memilih diam jika tidak bisa menyampaikan kemanfaatan.
Menurut Estifa, adanya perbedaan pendapat, kekurangan, maupun kesalahan dari orang lain bukanlah sebuah alasan untuk menghina atau mempermalukan mereka di depan publik. Sebaliknya, ajaran Islam menekankan agar umatnya saling menasihati dengan cara yang penuh hikmah, kasih sayang, serta tetap menjaga kehormatan satu sama lain.
"Allah SWT mengingatkan dalam Alquran, agar tidak saling mengolok-olok, mencela, ataupun memberikan julukan yang buruk. Oleh karena itu, setiap ucapan yang keluar dari lisan hendaknya menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab perpecahan," ucap Estifa saat memberikan pemaparan materi.
Dalam program interaktif yang disiarkan melalui frekuensi 94,3 Mhz ini, seorang pendengar bernama Suci di Setiabudi menanyakan batasan mengenai kritik, celaan, dan nasihat. Menanggapi pertanyaan tersebut, Estifa menjelaskan bahwa segala permasalahan sebaiknya diselesaikan melalui jalan musyawarah yang sehat tanpa perlu adanya tindakan menghina ataupun memfitnah.
"Walaupun benar misalnya tentang kondisi orang lain berarti itu gibah, dan sebaliknya menceritakan orang lain dalam keadaan tidak benar, ini namanya fitnah. Kalau memang ada masalah coba dimusyawarahkan, tidak perlu memfitnah, gibah, dan kritik yang merusak," ujar Estifa menjelaskan perbedaan mendasar tersebut.