Biaya Perawatan Gigi RI Tertinggi Kedua di ASEAN, Tren Skinification Jadi Solusi
- Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan gigi menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura dengan rata-rata mencapai 1.160 dollar AS.
- Tingginya biaya penanganan medis mendorong pergeseran tren ke arah perawatan preventif melalui konsep skinification pada kesehatan rongga mulut.
- Dokter gigi menyarankan masyarakat untuk lebih selektif memilih produk perawatan yang mengandung teknologi enzim lembut guna melindungi enamel gigi.
Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi kini tercatat menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. Berdasarkan data WHO's Oral Health Country Profile yang dirilis Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, rata-rata biaya yang dikeluarkan masyarakat mencapai 1.160 dollar AS atau berada tepat di bawah Singapura. Tingginya angka ini membuktikan bahwa kurangnya proteksi harian pada gigi dapat memicu beban finansial yang sangat besar ketika harus beralih ke tindakan medis.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya tren baru di tengah masyarakat yang kini mulai mengadopsi konsep 'skinification' dalam perawatan gigi dan mulut. Konsep yang awalnya populer di industri perawatan kulit ini menekankan pentingnya perlindungan enamel gigi layaknya menjaga skin barrier pada kulit wajah. Kesadaran masyarakat perlahan bergeser dari sekadar membersihkan sisa makanan menjadi upaya aktif untuk merawat, melindungi, dan memperbaiki rongga mulut secara preventif sebelum kerusakan parah terjadi.
Praktisi kesehatan gigi, drg. Zahrah Almira Cita Utami, mengungkapkan bahwa edukasi mengenai langkah preventif di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Banyak pasien mengeluhkan efektivitas pasta gigi pencerah tanpa menyadari kebiasaan buruk harian mereka sendiri. 'Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain akan tetap menempel dengan kuat,' tuturnya.
Untuk menekan risiko diskolorasi atau perubahan warna gigi, Zahrah membagikan beberapa tips praktis yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah. 'Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman yang berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak diskolorasi warna gigi,' paparnya. Upaya sederhana ini dinilai efektif meminimalkan penumpukan noda sebelum akhirnya memerlukan pembersihan karang gigi yang berbiaya mahal di klinik.
Lebih lanjut, masyarakat juga diimbau untuk lebih cermat dalam memilih produk pasta gigi yang beredar di pasaran saat ini. Penggunaan formula berbasis enzim seperti Papain, Dextranase, dan Lysozyme kini lebih disarankan dibandingkan bahan abrasif kasar karena mampu meluruhkan noda berbasis protein dengan lebih lembut tanpa mengikis enamel gigi. 'Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang hanya memiliki busa banyak, tapi nyatanya tidak dapat mengangkat noda atau stain. Saya menyarankan pasta gigi yang sudah ada uji labnya,' pungkas Zahrah.