Loading...

BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis 97W Ini Dampaknya ke Indonesia

Visualisasi satelit pemantauan cuaca dan analisis meteorologi oleh BMKG

Visualisasi satelit pemantauan cuaca dan analisis meteorologi oleh BMKG

Share:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 97W di Laut Filipina sebelah utara Papua. Meskipun berpeluang rendah, sistem ini tetap dipantau karena berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

“Bibit Siklon Tropis 97W saat ini terpantau di Laut Filipina utara Papua dengan peluang rendah menjadi siklon tropis.”

— BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis baru yang diberi kode 97W di wilayah perairan Indonesia. Berdasarkan laporan pemantauan resmi, sistem atmosfer tersebut terpantau berada di kawasan Laut Filipina sebelah utara Papua.

Melalui akun resmi Instagram @infobmkg, dijelaskan bahwa sistem ini memiliki peluang rendah untuk meningkat menjadi siklon tropis penuh serta bergerak ke arah barat-barat laut dalam waktu dekat. Kendati demikian, kehadirannya tetap memerlukan kewaspadaan mengingat potensi perubahannya terhadap dinamika cuaca regional.

Deputi Bidang Meteorologi dari BMKG, Andri Ramdhani, menyatakan bahwa kemunculan sistem ini terpantau secara intensif oleh wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta sejak tanggal 3 September 2026 pagi hari.

"Bibit Siklon Tropis 97W terbentuk pada tanggal 3 September 2026 pukul 07.00 WIB di Laut Filipina utara Papua dan berada di dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta," ujar Andri ketika dihubungi Kompas.com pada Kamis (3/9/2026).

Analisis Karakteristik dan Struktur Atmosfer

Berdasarkan hasil analisis komprehensif pada Kamis pagi pukul 07.00 WIB, pusat sirkulasi dari Bibit Siklon Tropis 97W teridentifikasi berada di sekitar koordinat 15.3°LU 140.8°BT. Sistem ini tercatat memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 15 knot atau setara dengan 30 kilometer per jam.

Selain kecepatan angin, hasil pemantauan tekanan udara minimum pada sistem tersebut berada pada angka 1009 hPa. Analisis citra satelit dalam kurun waktu 24 jam terakhir menunjukkan bahwa aktivitas konvektif di sekitar pusat sistem masih memperlihatkan pola asimetris.

Kondisi tersebut ditandai dengan terbentuknya beberapa kelompok awan konvektif yang mempunyai suhu puncak sangat dingin, meskipun distribusinya masih belum merata di sekitar titik pusat sirkulasi sistem.

Analisis angin perlapisan juga memperlihatkan adanya struktur sirkulasi siklonik yang cukup jelas pada lapisan permukaan, meskipun masih tergolong lebar dan belum menunjukkan konsentrasi angin yang sangat kuat di pusatnya.

Faktor Pendukung dan Hambatan Sistem

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup Bibit Siklon Tropis 97W sangat didukung oleh kondisi lingkungan laut yang memadai, termasuk suhu muka laut yang hangat serta aktivitas gelombang MJO dan Kelvin yang aktif di sekitar wilayah sistem.

Selain itu, faktor pendukung lainnya mencakup konvergensi angin lapisan bawah dan divergensi angin lapisan atas yang kuat, tingkat kelembapan udara yang relatif basah, serta nilai vortisitas di setiap lapisan.

Kendati demikian, perkembangan lebih lanjut dari bibit siklon tropis ini mendapatkan hambatan nyata akibat kehadiran sistem lain di sekitarnya, yakni Siklon Tropis Krovanh yang turut terpantau aktif.

BMKG terus melakukan pemantauan berkala terhadap pergerakan sistem cuaca ini guna mengantisipasi segala kemungkinan dampak lanjutan bagi wilayah Indonesia ke depannya.

Leave a Comment