Perubahan iklim global membuat sektor pertanian menghadapi tantangan krisis air yang semakin besar. Sejumlah negara termasuk Indonesia ternyata telah memiliki warisan teknologi irigasi kuno berusia ribuan tahun yang terbukti tangguh menghadapi berbagai guncangan iklim.
Perubahan iklim membuat sektor pertanian global menghadapi tantangan krisis air yang semakin besar dari waktu ke waktu. Berbagai fenomena alam seperti kekeringan ekstrem, pola hujan yang tidak menentu, hingga banjir membuat sistem irigasi konvensional tidak lagi cukup hanya berfungsi menyalurkan air ke lahan.
World Bank menilai kebutuhan terhadap sistem irigasi tahan iklim kini semakin mendesak untuk diterapkan. Pengelolaan air yang lebih baik terbukti dapat mengurangi tekanan air, memperluas pilihan tanaman, sekaligus memperkuat ketahanan para petani dalam menghadapi guncangan cuaca ekstrim.
Dalam laporan FAO AQUASTAT Water Data Snapshot 2025 tercatat bahwa secara global sekitar 72% pengambilan air digunakan untuk sektor pertanian. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, porsi penggunaan air untuk pertanian bahkan mencapai angka sekitar 85%.
Namun, berbagai prinsip yang kini disebut sebagai irigasi tahan iklim sebenarnya bukan sepenuhnya temuan baru. Masyarakat di berbagai belahan dunia telah menciptakan cara bijak untuk mengelola air sesuai kondisi alam sejak ribuan tahun lalu.
Sistem Irigasi Kuno di Berbagai Belahan Dunia
China memiliki sistem irigasi Dujiangyan yang dibangun sekitar 256 sebelum Masehi di Sungai Minjiang, Sichuan. Berbeda dengan bendungan besar modern, sistem ini membagi aliran sungai secara alami tanpa menghentikannya, dan masih mengairi lebih dari 660.000 hektare lahan pertanian hingga kini.
Sementara itu, Oman menghadapi tantangan berupa kelangkaan air gurun dan tingkat penguapan yang sangat tinggi. Melalui sistem Aflaj, masyarakat mengalirkan air bawah tanah menggunakan gravitasi lewat kanal tersembunyi agar terlindung dari panas dan evaporasi.
Iran memiliki teknologi kuno bernama Qanat yang telah digunakan sejak sekitar 800 sebelum Masehi atau berusia kurang lebih 2.800 tahun. Jaringan terowongan bawah tanah ini mampu mengalirkan air dari pegunungan menuju dataran kering tanpa membutuhkan bantuan pompa mesin sama sekali.
Keberhasilan berbagai sistem kuno ini membuktikan bahwa strategi pengelolaan air terbaik selalu selaras dengan karakter alam sekitar. Desain yang cerdas serta pemeliharaan berkelanjutan membuat infrastruktur tersebut mampu bertahan lintas generasi.
Read Also
Energi Jadi Nadi Negara Sekali Padam Layanan Publik Bisa Tumbang
Energi memegang posisi yang sangat strategis dalam menopang layanan...
Sejarah Phonograph Perangkat Reproduksi Suara Analog Pertama di Dunia
Phonograph adalah perangkat mekanis dan analog untuk mereproduksi suara yang...
Ribuan Buruh Micron di Taiwan Ancam Mogok Kerja Tuntut Perombakan Bonus
Ribuan pegawai Micron Technology di Taiwan melayangkan ancaman mogok kerja...
Ketika KTP Masuk Media Sosial Menyoroti Isu Anonimitas dan Privasi Data
Wacana kewajiban menyematkan identitas seperti KTP atau nomor telepon pada...
Subak Bali dan Modernisasi Irigasi Nasional
Indonesia sendiri memiliki sistem Subak di Bali yang telah digunakan secara turun-temurun selama lebih dari seribu tahun. Kekuatan utama Subak terletak pada tata kelola air secara kolektif yang dikoordinasikan langsung oleh kelompok petani dari hulu hingga hilir.
UNESCO mencatat ada sekitar 1.200 kelompok Subak yang mengatur pembagian air secara adil dan transparan bagi para anggotanya. Sistem ini memungkinkan petani beradaptasi dengan baik ketika ketersediaan air di alam mengalami perubahan drastis.
Meski demikian, berbagai sistem irigasi tradisional di dunia saat ini tidak luput dari berbagai ancaman modern. Penurunan muka air tanah, alih fungsi lahan, serta tekanan pariwisata menjadi tantangan nyata bagi kelestarian warisan budaya hidup tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan modernisasi serta rehabilitasi jaringan irigasi nasional secara berkala. Pada tahun 2025, Kementerian PU telah merealisasikan pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi seluas ratusan ribu hektare.