Mainan Berbasis AI Ancam Tumbuh Kembang Anak, Ahli Ingatkan Risiko Boneka Teddy Trojan
- Sejumlah perusahaan teknologi mulai memproduksi mainan dan robot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berfungsi sebagai pendamping interaktif bagi anak-anak.
- Profesor pediatrik Dana Suskind memperingatkan bahwa interaksi dengan AI yang tanpa hambatan dapat membuat anak tidak siap menghadapi realitas hubungan manusia yang kompleks.
- Pengamat ekonomi menilai anak-anak yang terlalu banyak berinteraksi dengan AI berisiko kalah bersaing di masa depan, mengingat sektor pekerjaan masa depan akan bertumpu pada kemampuan relasional manusia.
Kehadiran boneka beruang pintar bernama Teddy dalam film fiksi ilmiah 'A.I. Artificial Intelligence' karya Steven Spielberg pada tahun 2001 kini bukan lagi sekadar fantasi layar lebar. Gelombang perusahaan rintisan teknologi saat ini tengah berlomba-lomba menanamkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam tubuh boneka, robot, dan berbagai mainan anak-anak. Langkah ini diambil demi menciptakan asisten sekaligus pendamping pintar yang mampu berbicara, merespons emosi, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan rumah anak.
Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam dari kalangan ahli kesehatan dan perkembangan anak. Profesor bedah dan pediatrik dari Pusat Medis Universitas Chicago, Dana Suskind, menjuluki tren mainan pintar ini sebagai 'Boneka Teddy Trojan'. Lewat buku terbarunya yang berjudul 'Human Raised', Suskind mengingatkan bahwa di balik wujudnya yang lucu dan menggemaskan, teknologi ini membawa risiko tersembunyi yang besar bagi perkembangan saraf dan emosional generasi muda.
'Jika kita ingin anak-anak tetap bisa terhubung satu sama lain dan dengan manusia lain, mampu berpikir kritis, serta menavigasi dunia nyata, kita harus memastikan mereka mendapatkan masa kecil yang benar-benar diasuh oleh manusia,' ujar Suskind. Menurutnya, kontak mata, tawa bersama, dan jawaban sabar dari orang tua mengaktifkan sirkuit saraf purba yang dirancang untuk membangun kedekatan mendalam. Nutrisi biologis dan sosial semacam ini tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Lebih lanjut, Suskind mengibaratkan interaksi anak dengan AI seperti mengonsumsi makanan cepat saji yang diproses berlebihan. Karakter AI yang dirancang selalu sabar, penuh afirmasi, dan tanpa konflik dapat membuat anak terbiasa dengan hubungan yang instan tanpa hambatan. Padahal, dinamika hubungan manusia yang berantakan, seperti salah paham atau adu argumen, justru menjadi ruang bagi anak untuk belajar regulasi emosi, fleksibilitas, dan resiliensi.
Kekhawatiran lain yang muncul adalah potensi ketimpangan sosial di mana pengasuhan penuh oleh manusia bisa menjadi barang mewah di masa depan. Orang tua yang kekurangan waktu dan biaya mungkin akan lebih banyak bersandar pada robot AI yang murah untuk menjaga anak mereka. Dampak jangka panjangnya, anak-anak yang dibesarkan oleh kecerdasan buatan dikhawatirkan kalah saing di pasar kerja masa depan, terutama ketika sektor ekonomi bergeser pada industri relasional yang mengutamakan empati dan interaksi interpersonal sejati.