Korban tewas akibat banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet telah mencapai 1.130 orang dengan ribuan lainnya masih hilang. Mengingat kecilnya harapan menemukan korban selamat, sebagian keluarga mulai menggelar upacara pemakaman simbolis menggunakan boneka jerami.
“Saya melihat berita itu dan meneleponnya. Saya menelepon berkali-kali, tetapi dia tidak pernah mengangkatnya," ujar Dolma Newar Tamang.”
— Banjir Bandang Nepal-Tibet
Korban tewas akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, dilaporkan telah mencapai sedikitnya 1.130 orang. Berdasarkan data dari otoritas Nepal dan media pemerintah China pada Rabu (2/9/2026), bencana ini juga menyebabkan ribuan orang masih dinyatakan hilang.
Di wilayah Nepal saja, sedikitnya 1.114 jenazah telah berhasil ditemukan oleh tim penyelamat, sementara 3.916 orang lainnya masih belum ditemukan. Di sisi lain, media pemerintah China melaporkan sebanyak 16 orang tewas dan 546 orang hilang di wilayah Tibet.
Secara keseluruhan, akumulasi korban tewas di kedua wilayah perbatasan tersebut mencapai 1.130 orang, dengan total 4.462 orang yang masih dalam status hilang. Bencana alam berskala besar ini terjadi akibat longsoran gletser di pegunungan tinggi yang memicu gelombang air dingin sarat material longsor.
Dahsyatnya terjangan air dan material batu tersebut menyapu kawasan di sepanjang perbatasan China-Nepal, menciptakan kerusakan masif dan tantangan besar bagi jalannya operasi evakuasi serta pencarian korban.
Keluarga Gelar Pemakaman Simbolis
Memasuki sepekan pasca bencana, sebagian keluarga korban di Nepal mulai kehilangan harapan untuk menemukan anggota keluarga mereka dalam keadaan selamat. Kondisi ini mendorong mereka untuk mulai menggelar upacara pemakaman simbolis bagi kerabat yang masih hilang.
Berdasarkan tradisi Hindu setempat, sejumlah keluarga membakar boneka atau patung yang dibuat dari jerami sebagai bentuk pengganti jenazah fisik. Upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk membantu membebaskan jiwa orang yang hilang agar dapat beristirahat dengan tenang.
Dolma Newar Tamang, salah satu warga lokal yang kehilangan suaminya, menceritakan kepedihan saat suaminya sedang dalam perjalanan menuju China ketika bencana menerjang. "Saya melihat berita itu dan meneleponnya. Saya menelepon berkali-kali, tetapi dia tidak pernah mengangkatnya," kata Dolma kepada AFP.
Karena tidak kunjung mendapatkan kabar kepastian mengenai keberadaan sang suami, ia bersama keluarganya terpaksa memutuskan untuk menggelar ritual pemakaman simbolis tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Read Also
Dampak Karhutla Indonesia di Asia Tenggara Meluas hingga Tiga Negara
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan dampak...
Mengenal Perbedaan Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau yang Kembali Erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami erupsi...
Anak Krakatau Semeru dan Sinabung Erupsi PVMBG Berikan Penjelasan Kondisi Terkini
Sejumlah gunung api aktif di Indonesia meliputi Gunung Anak Krakatau, Gunung...
Sejarah Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan yang Dibangun Era Kolonial 1923
Rumah Pengabdi Setan di Perkebunan Teh Kertamanah, Pangalengan, Bandung,...
Pencarian Korban Masih Berlangsung
Meskipun sebagian keluarga mulai merelakan dan melaksanakan ritual pemakaman simbolis, tim penyelamat gabungan di Nepal tidak menghentikan upaya mereka. Tim SAR masih terus bekerja keras melakukan pencarian terhadap ribuan korban yang masih dinyatakan hilang di tengah medan yang sulit.
Proses evakuasi dan pencarian terkendala oleh sisa-sisa material longsoran gletser yang menimbun berbagai titik akses di sepanjang wilayah perbatasan. Pemerintah dan lembaga terkait terus mengerahkan sumber daya untuk memperluas jangkauan pencarian.
Bencana ini menjadi salah satu musibah alam paling mematikan yang melanda kawasan tersebut dalam kurun waktu terakhir, menarik perhatian dunia internasional terhadap dampak perubahan iklim dan ketahanan wilayah pegunungan.
Data faktual menunjukkan bahwa jumlah korban hilang masih mendominasi angka laporan resmi, sehingga operasi kemanusiaan dan pencarian darurat akan terus diprioritaskan oleh pihak berwenang dalam beberapa hari ke depan.