Loading...

Aliansi BRICS Satukan Kekuatan di India

2026-09-12 POLITICS POLITIK, EKONOMI, BRICS
Foto suasana KTT aliansi BRICS di India yang dihadiri oleh para pemimpin dunia

Foto suasana KTT aliansi BRICS di India yang dihadiri oleh para pemimpin dunia

Share:

India resmi menjadi tuan rumah KTT BRICS di tengah upaya blok Global South memperkuat posisi global. Meskipun menghadapi tantangan internal dan ketergantungan dolar, aliansi ini tetap menjadi platform ekonomi dan politik yang masif.

“Prioritas yang menyatukan negara-negara BRICS sebagian besar adalah keinginan untuk menghasilkan banyak uang melalui perdagangan internasional dan untuk mengakhiri khotbah 'Barat' tentang di mana mereka gagal dalam hal hak asasi dan demokrasi," papar Sean Burges.”

— Aliansi BRICS

India resmi menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung pada tanggal 12 hingga 13 September. Momen krusial ini digelar saat blok raksasa Global South tersebut berusaha memperkuat posisinya di kancah global, di tengah ancaman perpecahan akibat terseretnya keanggotaan mereka ke dalam pusaran perang Amerika Serikat di Iran.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mendarat di New Delhi pada Jumat pagi untuk menghadiri KTT ini. Agenda besar ini berlangsung lebih dari enam bulan setelah AS dan Israel melancarkan serangan masif terhadap Iran, yang baru bergabung menjadi anggota BRICS pada 2024 bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Etiopia, dan Indonesia.

Meskipun BRICS diciptakan untuk menantang tatanan dunia yang dipimpin Barat, para analis sepakat bahwa blok yang didirikan setelah krisis keuangan 2008 ini masih kesulitan membangun alternatif kelembagaan yang koheren. Kelemahan struktural yang paling terlihat adalah ketergantungan perdagangan mayoritas anggota BRICS yang masih mengakar pada dolar AS.

Peneliti dari BRICS Studies Group di University of Sao Paulo, Octavio Oliveira dan Enzo Godinho, menyoroti bahwa keberadaan blok ini tetap menjadi platform penting bagi Global South untuk bersuara dan bekerja sama melewati Barat.

Ambisi Ekonomi dan Realitas Ketergantungan Dolar

Bank Pembangunan Baru yang didirikan kelompok ini sukses menjadi lembaga keuangan pertama yang bebas dari intervensi negara Barat, meski belum menyaingi kekuatan IMF. Profesor Studi Internasional di Carleton University, Sean Burges, menilai BRICS sama sekali tidak berniat mengambil alih tanggung jawab tata kelola global ala G7.

Secara hitungan ekonomi, kekuatan BRICS sangat masif karena mewakili hampir separuh populasi dunia, 40% dari total output global, 44% produksi minyak dunia, dan sekitar seperempat perdagangan dunia. Proyeksi pertumbuhannya bahkan mencapai 3,7% tahun ini, jauh melampaui G7 yang tertahan di level 1%.

Meski demikian, analis mencatat daya ungkit BRICS sejatinya lebih lemah dari ukuran di atas kertas. Bank Pembangunan Baru tercatat baru menyetujui pendanaan sekitar US$ 39 miliar pada akhir 2024, angka yang kecil dibandingkan komitmen Bank Dunia.

Analis Geopolitik Guy Burton mengamini bahwa hegemoni dolar AS tidak akan menghadapi tantangan serius hingga satu dekade ke depan. "Blok secara keseluruhan tidak beralih dari dolar; masing-masing anggota mengurangi eksposur mereka sendiri, satu hubungan pada satu waktu," tegas Guy Burton.

Retak Imbas Konflik Geopolitik dan Pengaruh Energi

Di ranah geopolitik, perluasan anggota justru memicu kebingungan dan melunturkan kohesi internal. Guy Burton menilai bahwa blok ini tidak memiliki komitmen pertahanan kolektif sehingga para anggota sengaja mempertahankan kebebasan untuk bertindak secara independen.

Keretakan ini terlihat nyata saat pertemuan menteri luar negeri BRICS pada bulan Mei lalu bubar tanpa pernyataan bersama akibat kebuntuan kecaman terhadap aksi AS dan Israel. Kendati dipenuhi dinamika, masuknya produsen minyak raksasa telah melipatgandakan pengaruh blok ini di pasar energi global.

Inisiatif investasi China yang gencar di negara-negara anggota juga memberikan ruang napas bagi negara berkembang untuk bermanuver di antara hegemoni Washington dan Beijing. Hal ini menjadikan posisi tawar negara-negara anggota semakin strategis dalam lanskap ekonomi internasional.

Analis Geostrategis Imran Khalid menyimpulkan bahwa BRICS saat ini lebih berfungsi sebagai platform kemandirian ketimbang penghancur dominasi Barat. Blok ini hadir sebagai penantang bagi seberapa murah pihak Barat dapat memberikan tekanan pada masing-masing negara.

Leave a Comment