Paparan abu vulkanik tidak boleh dianggap sepele karena dapat memicu gangguan kesehatan seperti ISPA dan iritasi mata. Kenali 5 hal yang sebaiknya dilakukan setelah terpapar abu vulkanik untuk melindungi diri.
“Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan selama paparan abu berlangsung.”
— Abu Vulkanik
Paparan abu vulkanik bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele oleh masyarakat karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar paparan tidak berlanjut atau menimbulkan iritasi. Abu vulkanik yang terbawa angin bisa menempel di pakaian, wajah, dan kulit, bahkan terhirup tanpa disadari oleh warga.
Hanya saja, setipis apa pun abu vulkanik, masyarakat tidak bisa memperlakukannya seperti debu atau kotoran biasa dalam kehidupan sehari-hari. Paparan abu dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti infeksi saluran pernapasan akut, iritasi mata, dan gangguan pada kulit.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak negatif material vulkanik ini. Hal pertama yang perlu dilakukan bukanlah langsung membersihkan wajah atau pakaian, melainkan mengurangi paparan abu secara menyeluruh.
Jika abu masih turun di suatu wilayah, warga diimbau segera masuk ke dalam ruangan serta menutup rapat pintu dan jendela rumah. Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), "Sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan selama paparan abu berlangsung."
Langkah Penanganan dan Pencegahan Dampak Kesehatan
Abu vulkanik mengandung partikel berbahaya yang dapat mengganggu saluran pernapasan manusia jika terpapar dalam waktu yang cukup lama. Oleh karenanya, semakin lama seseorang berada di lingkungan yang penuh abu, semakin besar pula peluang partikel tersebut terhirup ke dalam tubuh.
Jika memang harus keluar rumah atau membersihkan abu yang sudah masuk ke rumah, CDC merekomendasikan penggunaan masker untuk membantu menyaring partikel abu. Dalam jangka pendek, abu dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan bagian atas.
US Geological Survey menyebut keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, serta memburuknya kondisi pada orang yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma. Paparan abu dan gas vulkanik juga dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang cukup signifikan.
Abu yang menempel di kulit sebaiknya segera dibersihkan setelah berada di tempat yang aman dengan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan. Abu vulkanik bersifat abrasif sehingga kontak langsung dapat menyebabkan kulit menjadi iritasi dan kemerahan.
Read Also
2 Kebiasaan di Kamar Mandi yang Bisa Picu Stroke, Terlihat Sepele tapi Berbahaya
Aktivitas sederhana di kamar mandi seperti perubahan suhu tubuh secara...
Rahasia Umur Panjang Pria China Usia 106 Tahun yang Jalani Pola Tidur Unik
Seorang pria berusia 106 tahun asal China bernama Wang Dinggao menarik...
BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta Resmi Terhubung dengan Skema KAPJ
Pemerintah resmi menghubungkan BPJS Kesehatan dan asuransi swasta melalui...
Badan Riset dan Inovasi Nasional Kembangkan Terapi Kanker Paru Berbasis Nanopartikel
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan metode...
Perawatan Mata dan Pembersihan Rumah yang Aman
Mata menjadi salah satu bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian lebih ketika terkena partikel abu vulkanik yang tajam. Partikel abu dapat membuat mata terasa seperti kemasukan benda asing, berair, merah, gatal, terasa terbakar, hingga menyebabkan goresan pada kornea.
Jika abu masuk ke mata, warga diingatkan untuk tidak menguceknya guna menghindari kerusakan yang lebih parah pada kornea mata. Kemenkes secara khusus mengingatkan masyarakat untuk membersihkannya dengan air bersih dan menggunakan obat tetes mata bila diperlukan.
Sudah sampai rumah bukan berarti paparan otomatis selesai karena abu yang mengendap di lantai atau meja dapat kembali beterbangan. Warga disarankan memakai masker, pelindung mata, pakaian tertutup, serta sarung tangan ketika melakukan pembersihan di dalam rumah.
Sebagian besar keluhan akibat paparan abu bersifat ringan dan dapat membaik setelah seseorang menjauh dari sumber paparan utama. Meski begitu, segera cari pertolongan medis jika setelah terpapar abu muncul sesak atau kesulitan bernapas yang menetap.