Warga Desa Kaltim Menjerit, Internet Desa Terancam Mati Total Gara-Gara PLN Nyerah?
- Diskominfo dan Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Timur bersinergi mengatasi kendala pasokan listrik pada titik-titik internet perdesaan untuk mengoptimalkan pelayanan digital.
- Banyak perangkat telekomunikasi di wilayah blank spot terpaksa mati mengikuti jam operasional genset warga akibat belum tersambung jaringan listrik PLN.
- Dinas ESDM Kaltim mencatat ada 13 desa non-PLN dari 23 desa yang belum terpasang internet, dan kini menjadi prioritas Program Listrik Desa (Lisdes).
Upaya digitalisasi di wilayah pelosok Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi benturan keras di lapangan akibat krisis pasokan daya. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim kini harus bergerak cepat bersinergi mengatasi kendala listrik di berbagai titik internet perdesaan. Langkah krusial ini diambil demi memastikan pelayanan publik berbasis digital tidak lumpuh dan tetap bisa dinikmati masyarakat.
Kepala Diskominfo Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengungkapkan bahwa laporan dari para vendor penyedia layanan menunjukkan fakta lapangan yang memprihatinkan. Sejumlah titik koordinat internet desa ternyata sama sekali belum didukung oleh jaringan listrik dari PT PLN (Persero). "Masukan dari teman-teman vendor menunjukkan sebagian titik koordinat memang belum teraliri listrik. Kami berharap Dinas ESDM dan PLN dapat bersinergi memberikan dukungan pasokan daya agar titik layanan internet yang telah ditetapkan bisa beroperasi penuh," ujar Ririn saat memimpin rapat koordinasi di Kantor Dinas ESDM Kaltim, Samarinda.
Selama ini, Diskominfo Kaltim sebenarnya tidak tinggal diam dalam menghadapi tantangan wilayah blank spot tersebut. Mereka terus berupaya menghadirkan konektivitas internet dengan memanfaatkan energi alternatif seperti generator set (genset), layanan satelit Starlink, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun, solusi mandiri ini terhambat oleh durasi operasional yang sangat terbatas dan tidak efisien untuk jangka panjang.
"Kami tetap memasang jaringan internet meskipun belum ada listrik PLN. Sayangnya, perangkat sering kali harus dimatikan mengikuti jam operasional genset warga yang terbatas. Jika pasokan listrik dari PLN bisa masuk, layanan internet tentu dapat menyala 24 jam dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat," tambah Ririn menjelaskan dilema yang dihadapi warga desa.
Merespons hal itu, Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menegaskan komitmennya untuk menggenjot pemerataan akses energi melalui Program Listrik Desa (Lisdes). Berdasarkan data sinkronisasi terbaru, ditemukan 13 desa berstatus non-PLN dari total 23 desa yang belum memiliki akses internet memadai. Pihaknya memproyeksikan 44 desa di Benua Etam akan menjadi sasaran prioritas Lisdes, di mana 9 desa di antaranya seperti Kampung Long Duhung dan Kampung Pulau Miang akan segera dieksekusi dalam waktu dekat demi memutus rantai kesenjangan digital.