Boboko Perkuat Persatuan Bobotoh lewat Edukasi dan Aksi Sosial
- Komunitas Bobotoh Kolot (Boboko) yang kini memiliki 2.000 anggota berkomitmen mengedukasi suporter Persib Bandung untuk menjaga sportivitas.
- Ketua Boboko, Yukie, menegaskan bahwa Persib bukan sekadar klub sepak bola biasa, melainkan bagian erat dari identitas dan warisan budaya masyarakat Sunda.
- Boboko mengingatkan seluruh pendukung untuk menghindari tindakan anarkis serta rasis karena rivalitas dan euforia laga sepak bola hanya berlangsung selama 90 menit.
Komunitas Bobotoh Kolot (Boboko) terus memperkuat perannya sebagai wadah silaturahmi yang positif bagi para pendukung klub Persib Bandung. Sejak resmi didirikan pada 10 Desember 2025, komunitas suporter ini berkomitmen penuh menanamkan kecintaan terhadap tim Pangeran Biru secara sehat. Bagi mereka, mendukung Persib bukan sekadar hobi musiman, melainkan bagian dari menjaga identitas serta warisan budaya masyarakat Sunda di kancah nasional.
Ketua Bobotoh Kolot, Yukie, mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun ini Boboko telah berhasil merangkul sekitar 2.000 anggota yang tersebar luas di berbagai daerah di Jawa Barat. Untuk memfasilitasi berbagai pergerakan organisasi, mereka berpusat di Sekretariat Jalan Sumbawa Nomor 30, Kota Bandung. Lokasi ini menjadi titik krusial untuk melaksanakan konsolidasi, pembinaan anggota, hingga perencanaan aksi kemanusiaan di luar lapangan hijau.
Menurut Yukie, Boboko mengusung misi besar yang berfokus pada edukasi dan pelestarian budaya daerah lewat sepak bola. Ia menilai prestasi gemilang yang ditorehkan Persib Bandung selama ini merupakan kebanggaan yang harus dirawat antargenerasi agar tidak tergerus zaman. 'Kami ingin terus mengedukasi bahwa Persib bukan sekadar klub sepak bola, tetapi juga bagian dari warisan budaya Sunda yang harus kita jaga bersama,' ujar Yukie saat memberikan keterangan pada Rabu, 15 Juli 2026.
Di tengah era transformasi industri sepak bola tanah air, Boboko juga berharap manajemen Persib terus berkembang ke arah yang lebih profesional tanpa melupakan pembinaan talenta lokal. Keberadaan pemain-pemain muda asli Jawa Barat dinilai krusial sebagai jembatan emosional antara klub dan masyarakat. Suporter pun diharapkan tetap kritis guna membangun klub, karena kemajuan tim tidak akan tercapai tanpa adanya masukan yang jujur dan transparan dari para pendukung setianya.
Menutup keterangannya, Yukie memberikan pesan mendalam mengenai batasan dalam memberikan dukungan agar tidak terjebak ke dalam fanatisme buta yang merugikan banyak pihak. 'Dalam mencintai Persib Bandung jangan pernah bersikap anarkis maupun rasis. Euforia sepak bola hanya 90 menit, tetapi setelah itu kita tetap hidup berdampingan sebagai masyarakat,' tegas Yukie. Untuk memperluas jaringan, Boboko kini memanfaatkan platform digital guna menjaring anggota baru yang ingin bergabung secara resmi.