Cegah Klithih hingga Radikalisme, 550 Siswa Baru SMKN 1 Seyegan Dibekali Edukasi Karakter
- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 1 Seyegan diisi dengan sosialisasi pencegahan bullying, aksi klithih, radikalisme, dan edukasi literasi digital.
- Kegiatan ini diikuti oleh 550 siswa baru dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman dan Kesbangpol Kabupaten Sleman.
- Para siswa diajak memperkuat nilai Pancasila dan bela negara agar tidak mudah terpengaruh konten negatif seperti hoaks dan propaganda radikal di media sosial.
Aksi kekerasan jalanan atau klithih dan perundungan (bullying) yang kerap melibatkan kalangan remaja menjadi perhatian serius di wilayah Yogyakarta. Mengantisipasi hal tersebut, sebanyak 550 siswa baru SMK Negeri 1 Seyegan di Kabupaten Sleman dibekali sosialisasi khusus mengenai penguatan karakter. Kegiatan bertema edukasi anti-bullying, anti-klithih, anti-radikalisme, serta literasi digital ini digelar di tengah momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027.
Acara yang dilangsungkan di Gedung Olahraga (GOR) SMKN 1 Seyegan ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Wakil Kepala SMKN 1 Seyegan, Nurhadi, secara langsung menerima kehadiran para narasumber yang kompeten di bidang sosial dan kebangsaan. Dua pemateri utama yang dihadirkan adalah Tenaga Pelopor Perdamaian (PORDAM) Dinas Sosial Kabupaten Sleman, RM Yohanes Samiaji, serta perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman, Bagus Jalu Anggara.
Dalam pemaparannya, RM Yohanes Samiaji menekankan pentingnya menumbuhkan empati dan sikap kritis di kalangan generasi muda, terutama dalam menyaring informasi di dunia maya. Menurutnya, mata rantai kekerasan remaja sering kali bermula dari interaksi digital yang tidak sehat, seperti cyberbullying dan paparan hoaks. 'Menjadi pelajar hebat bukan karena ditakuti, tetapi karena mampu menghormati perbedaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta berani mengatakan tidak terhadap bullying, klithih, dan segala bentuk kekerasan,' tutur Yohanes di hadapan para siswa.
Sementara itu, Bagus Jalu Anggara menyoroti pentingnya benteng ideologi untuk menangkal infiltrasi paham radikal yang menyasar sekolah-sekolah. Ia memaparkan bahwa nilai-nilai Pancasila dan semangat bela negara harus menjadi landasan utama para pelajar dalam bertingkah laku sehari-hari. Bagus juga mengingatkan para siswa baru agar menggunakan media sosial secara bijak guna menghindari hoaks, ujaran kebencian, maupun propaganda digital yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Antusiasme para peserta terlihat sangat tinggi selama sesi diskusi interaktif berlangsung, di mana banyak siswa melontarkan pertanyaan taktis mengenai cara menghadapi tekanan perundungan dari teman sebaya hingga langkah melaporkan indikasi radikalisme di lingkungan sekitar. Melalui pembekalan intensif ini, pihak sekolah berharap para siswa baru tidak hanya berprestasi secara akademik, namun juga mampu menjadi agen perubahan yang aktif menciptakan ekosistem belajar yang aman, toleran, dan bebas dari segala bentuk intimidasi.